SIDDHI Surabaya

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel Dharma Konsep Ketuhanan Dalam Agama Buddha

Konsep Ketuhanan Dalam Agama Buddha

E-mail Print PDF
Dalam memahami mengulas mengenai konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha. Suatu pertanyaan yang sering timbul, yaitu : Apa dalam Agama Buddha mengenal Ketuhanan ?” Pertanyaan tersebut timbul, tidaklah mengherankan. Dalam mengulas mengenai Ketuhanan, ada Beberapa kendala dalam pemahaman lebih lanjut tentang Ketuhanan, antara lain :
Penyebutan kata “Ketuhanan” tersebut tidak populer dan tidak dipakai sama sekali dalam pembabaran agama Buddha, seolah-olah tidak memiliki ajaran tersebut ; Belum adanya pemahaman yang memadai dan jarang dibicarakan ; Kekacauan konseptual dalam lingkungan multi religius, umat Buddha tidak dapat menjauhkan diri dari berinteraksi secara aktif dengan umat agama lain. Di mana umat non Buddhis dengan mudah menyebut dan memonopoli kata ”Ketuhanan” di segala tempat dan segala waktu tanpa memperdulikan implikasinya dan ; tidak memiliki akses informasi yang langsung yang lengkap, leluasa dan otoritatif terhadap ajaran dokrinal agamanya dan secara tergesa-gesa ikut-ikutan meminjam konsep agama lain.

Agama Buddha menekankan Pragmatis, yaitu : Mengutamakan tindakan-tindakan cepat dan tepat yang lebih diperlukan di dalam menyelamatkan hidup seseorang yang tengah gawat dan bukan hal-hal lainnya yang kurang praktis, berbelit-belit, bertele-tele dan kurang penting. Buddha tidak pernah menghabiskan waktu untuk perkara-perkara spekulatif tentang alam semesta karena hal ini kecil nilainya bagi pengembangan spiritual menuju Kebahagiaan Sejati.

Hal ini dapat kita lihat pada kisah, orang yang tertembak anak panah beracun, yang menolak untuk mencabutnya sebelum dia tahu siapa yang memanahnya, kenapa panah itu ditembakkan, dari mana anak panah itu ditembakkan. Pada saat semua pertanyaannya terjawab, dia sudah akan mati lebih dahulu. (Cula-Malunkyovada Sutta, Majjhima Nikaya 63)

Sutra tersebut mengajarkan kita memiliki pemahaman yang rasional, efektif, efisien, cerdas dan bijaksana dalam kehidupan spiritual umat manusia agar tindakan cepat dan tepat segera diutamakan, tanpa membuang-buang waktu lagi

Dalam mengulas konsep tersebut kita tidak dapat melepaskan 4 (empat) rumusan Kebenaran, yaitu :
1.    Ada awal - Ada akhir
Kebenaran ini menjelaskan ada awal dalam proses pembentukan, pembuatan dan kejadian. Seperti Pembuatan meja. Ada proses pengerjaan kayu-kayu dibentuk, dihubungkan dan difinishing sehingga terbentuk meja kayu dengan empat pondasinya atau bentuk desain lainnya. Ada Akhir dalam hal ini ada kehancuran, kelapukan. Jadi, dengan berjalannya proses waktu, meja tersebut dapat rusak, hancur atau diolah lagi dalam bentuk lainnya. Seperti meja tersebut dimakan rayap, dijadikan kayu bakar atau dijadikan pondasi. Maka pada saat bentuk berubah kita mengatakan akhir keberadaan dari apa yang kita namakan meja tersebut.

2.    Ada Awal - Tanpa Akhir
Kebenaran jenis ini, seperti Bilangan asli yang selalu diawali dengan angka 1 dan angka selanjutnya tanpa batas. Kita tidak dapat mengakhiri pada angka tertentu. Meskipun penghitungannya angka tersebut sudah sedemikian besar.

3.    Tanpa awal - Ada akhir
Kebenaran jenis ini, contohnya adalah keberadaan kehidupan manusia. Apabila kita telusuri awal keberadaan manusia kita tidak akan menemukan suatu jawaban yang pasti. Pada saat kita menarik kebelakang. Orang pasti memiliki ayah dan ibu. Ayah dan Ibu pun memiliki ayah dan ibunya lagi. Terus kita tarik baik dari sisi ibu maupun dari sisi ayah kita tidak akan menemukan titik yang tepat. Meskipun dalam agama tertentu. Ada keberadaan awal manusia.

Dalam hal ini karena keterbatasan dalam mencari awal permulaan maka dikatakan tanpa awal untuk mempermudah pemahaman lebih lanjut. Apabila kita memaksakan diri untuk menemukan jawabannya maka kita akan terjebak dalam spekulasi pandangan. Hal ini tentu akan banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Sementara kehidupan kita adalah terbatas. Cepat atau lambat akan meninggalkan dunia ini.

Pengertian ada akhir, berati orang tersebut telah mencapai pencerahan sehingga tidak dilahirkan kembali.

Jadi, Sama sekali tidak ada alasan untuk menganggap bahwa segala sesuatu atau dunia ini harus memiliki suatu permulaan. Gagasan bahwa segala sesuatu harus memiliki permulaan benar-benar karena miskinnya pikiran kita."

4.    Tanpa awal - Tanpa akhir
Kebenaran jenis ini dapat kita lihat dalam Udana Nikaya :
 “Ketahuilah Para Bhikkhu, Ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Wahai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Kebenaran terakhir ini, seperti Nibbana yang memungkinkan kita untuk mencapai pembebasan.

Buddha telah mencapai Pencerahan Sempurna, dengan demikian Buddha menghayati dan memahami Ketuhanan dengan sempurna pula. Buddha bersabda: “Ada Yang Tidak Terlahir, Yang Tidak Terjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak (Udana VIII:3).

Yang Mutlak = Asamkhata-Dhamma = Yang Tak Terkondisi. Dengan adanya Yang Tak Terkondisi (Asamkhata), maka manusia yang terkondisi (Samkhata) dapat mencapai kebebasan mutlak dari samsara.

Dengan adanya hukum Dharma, unsur IMANEN dari Ketuhanan YME tidak lenyap sama sekali, namun ajaran Buddha menekankan unsur TRANSENDEN dari Ketuhanan YME. Semua yang transenden adalah TIDAK TERKONSEPKAN, harus dipahami secara INTUITIF melalui PENCERAHAN, bukan melalui konsep.

Tak terelakkan, ketika kita bicara tentang konsep Ketuhanan, diperlukanlah: SEBUTAN. Salah satu sebutan: Adi-Buddha. Sebutan lain: Advaya, Diwarupa, Mahavairocana (kitab-kitab Buddhis bahasa Kawi), Vajradhara (Tibet: Kargyu & Gelug), Samantabhadra (Tibet: Nyingma), Adinatha (Nepal). Daftar ini tidak lengkap dan masih bisa diperpanjang lagi sesuai dengan kebutuhan

Ajaran-ajaran mengenai Adi Buddha telah lama dianut oleh leluhur-leluhur kita di tanah Jawa yang menganut aliran Buddha esoterik yang mendirikan candi borobudur serta candi-candi Buddhis lainnya.

Adi-Buddha = Realitas Tertinggi
Adi-Buddha = Kebenaran Mutlak.
Adi-Buddha = Ketuhanan Yang Maha Esa
Adi-Buddha = Dharmakaya

Dharmakaya: tubuh Dharma yang absolut, kekal, meliputi segalanya, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ada dengan sendirinya, bebas dari pasangan yang berlawanan, bebas dari pertalian sebab-akibat.

Adi-Buddha bukan suatu personifikasi.
Adi-Buddha bukan sosok yang punya inti-ego (ego-conscious).
Adi-Buddha bukan Tuhan antropomorfik (menyerupai manusia).
Adi-Buddha bukan Tuhan antropopatis (berperasaan = manusia).

Apakah pengetahuan kita mengenai Adi-Buddha dapat menyelamatkan kita dari samsara?
Tentu saja TIDAK.

Mengapa ?” Karena pengetahuan kita mengenai Adi-Buddha bersifat intelektual semata; bukan pengalaman intuitif langsung.  Selain itu karena kita masih harus berlatih sila dan semadi untuk mewujudkan kebijaksanaan. Tanpa melakukan ketiga hal ini, kita tidak akan terbebas dari Samsara.

Pandangan C. Wowor mengenai konsep Ketuhanan, beliau mengatakan bahwa Ketuhanan yang Maha Esa dalam agama Buddha, menurut ajaran dalam Tipitaka adalah Nibbana. Menurutnya Maha Brahma bukanlah Tuhan dalam versi Buddhis. Sebagaimana kutipan beliau dalam Bramajala Sutta, disebutkan sebagai berikut :
“Demikianlah pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu masa yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam pembentukan. Ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih kosong.

Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang masa hidupnya atau pahala karma baiknya untuk hidup di alam itu telah habis. Ia meninggal dari alam Abhassara dan  terlahir kembali di alam Brahma

Di sini ia hidup ditunjang oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali. Karena terlalu lama ia hidup di situ. Maka dalam dirinya muncullah rasa ketidakpuasan, juga muncul suatu keinginan, “O, Semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini !”

Pada saat itu ada makhlukn lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala karma baiknya  telah habis, mereka meninggalkan alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi banyak hal sama dengan dia.

Para Bhikkhu, berdasarkan hal itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat, “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi Semua Makhluk, Asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Semua makhluk adalah ciptaanku. Mengapa Demikian !” Baru saja saya berpikir, semoga mereka datang, dan berdasarkan pada keinginanku itumaka makhluk-makhluk itu muncul.

Makhluk-makhluk itu pun berpikir, “Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi Semua Makhluk, Asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa ?” Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada disini, sedangkan kita muncul sesudahnya.

“Para bhikkhu dalam hal ini makhluk yang pertama yang berada di situmemiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi. Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan menjadi tenang dan memiliki kemampuan mengingat kembali satu kehidupan lampau, tetapi tak lebih dari itu.

Mereka berkata Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi Semua Makhluk, Asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Diala yang menciptakan kami, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah, dan memiliki usia yang terbatas.

Apabila kita cermati dengan seksama, Maha Brahma yang merupakan makhluk alam Abhassara yang terlahir di alam Brahma. Pada masa awal memiliki tubuh yang bercahaya dan memiliki kemampuan untuk melayang-layang. Munculnya makhluk alam Brahma lainnya adalah karena habisnya masa kehidupan mereka di alam Abhassara. Jadi, bukan karena hasil dari ciptaan Maha Brahma.

Setelah menolak Maha Brahma sebagai pencipta, dia menawarkan rumusan lain yang diambil dari Tipitaka yang menurutnya lebih tepat disebut Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Buddha. Beliau mengutip Sutta Pitaka, Udana Nikaya VIII : 3 : “Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam, yang artinya : “Suatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan dan Mutlak.”

Pandangan Upasaka Succako, dalam bukunya Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha, beliau menyebutkan : Nibbana adalah cita-cita tertinggi. Nibbana merupakan suatu keadaan ketika kita terbebaskan secara sempurna dari belenggu lahir-mati dan tanha ? Nirvana adalah kebalikan Samsara. Nibbana harus ditafsirkan sebagai berakhirnya segala manisfestasi dari tanha. Nibbana adalah akibat dari proses pembersihan hati dan pikiran secara total dan bukan sebaliknya sebab dari terjadinya proses itu ?

Dalam Anguttara Nikaya, Buddha menjelaskan ada 3 (tiga) pandangan yang berbeda yang dianut masyarakat luas pada masa kehidupannya. Salah satu dianataranya adalah pandangan bahwa baik penderitaan maupun kebahagiaan kedua-duanya berasal semata-mata dari Pencipta (Issaranimmanahetu). Menurut pandangan ini kita tidak lebih dari hasil karya Pencipta dan sebagai konsekuensinya, seluruh nasib dan takdir kita bergantung mutlak pada kehendaknya yang absolut. Dalam pandangan ini manusia tidak memiliki sedikit kebebasan lagi untuk menentukan nasib dan takdirnya sendiri.

Terhadap pandangan ini, Sakyamuni Buddha bersabda, “Jadi, karena diciptakan oleh Pencipta yang maha tinggi, maka manusia akan menjadi pembunuh, pencuri, penjahat, pembohong, pemfitnah, penghina, pembual, pencemburu, pendendam dan orang yang keras kepala. Oleh karena bagi mereka yang berpandangan bahwa segala sesuatu adalah ciptaan pencipta, maka mereka tidak akan lagi mempunyai keinginan, ikhtiar ataupun untuk menghindar dari perbuatan lain. (Majjhima Nikaya II, Sutta no. 101).

Jika ada suatu makhluk yang merancang kehidupan dunia, kemuliaan dan kesengsaraan, tindakan baik dan tindakan jahat – maka manusia tidak lain adalah alat dari kehendaknya dan tentu makhluk itu yang bertanggung jawab (Jataka VI : 208).

SANGHYANG ADI BUDDHA adalah asal usul dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, ia sendiri tanpa asal dan tanpa akhir, ada dengan sendirinya, tidak terhingga, Supreme dalam segala kondisi, conditionlesss, absolute, ada dimana-mana, esa tiada duanya, kekal abadi. Namun semua kata-kata indah dan besar itu tidak mampu melukiskan keadaannya yang sebenarnya dari Sanghyang Adi Buddha.

Apakah Adi Buddha tersebut ?
Adi Buddha tak dapat dikatakan sebagai zat Ilahi yang memiliki inti ego (ego conscious). Adi Buddha bukanlah Tuhan Antrofomorfik (menyerupai manusia) maupun Tuhan Antropopatis (memiliki perasaan dan emosi seperti manusia) yang membuat sebuah rencana dibenaknya, lalu berkeinginan untuk mewujudkannya dan dikemudian hari memutuskan untuk menilai baik tidaknya hasil karya itu – layaknya seorang arsitek yang memandangi gedung hasil ciptaannya sendiri untuk memuji atau mencela.

Dalam Literatur Mahayana dapat kita jumpai konsep pemahaman mengenai Ketuhanan tersebut. Dalam kitab Sutra Vimalakirti Nirdesa, disebutkan Dharma tertinggi adalah tak terkatakan.

Pendekatan pemahaman tersebut kita telusuri dalam Trikaya (tiga tubuh Kebuddhaa), yaitu :
1.    Dharmakaya yang absolut
Yang Mutlak ini bersifat kekal, meliputi segalanya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu bukan realitas personifikasi, esa, bebas dari pasangan yang berlawanan, ada dengan sendirinya, bebas dari pertalian sebab akibat. Tubuh Dharma ini disebut Tathagatagarbha.

2.     Sambhogakaya
Tubuh rahmat atau tubuh cahaya sering dinyatakan perwujudan surgawi yang dapat dilihat oleh makhluk surga dan Boddhisatva.

3.     Nirmana kaya
Tubuh perubahan yang dapat dilihat oleh manusia dan dipakai untuk mengajarkan manusia. Buddha Gotama yang mengajarkan kita memakai tubuh ini

Mengapa harus ada Adi Buddha
Adanya Adi Buddha merupakan penegasan yang penting, bahwa kehidupa ini bukanlah produk chaos, melainkan hasil dari tata kerja hierarchi spiritual yang menghendakinya. Dengan adanya Adi Buddha kehidupan ini menjadi berarti dan dapat dimungkinkan untuk mencapai pencerahan dan kebuddhaan.

Bagaimana dengan pengaturan hukum alam semesta ?”
Ajaran Buddha mengenai asal alam semesta. Selaras dengan ilmu pengetahuan. Dalam Aganna Sutta, Buddha menggambarkan: alam semesta berulang kali mengalami kehancuran dan tersusun kembali selama masa yang tak terhitung; bumi ini bukanlah satu-satunya planet; ada gugus-gugus yang lebih besar, tatasurya, galaksi, mahagalaksi, dst, tanpa batas.  kehidupan pertama terbentuk di atas permukaan  air, kehidupan berangsur-angsur berevolusi dari organisme yang sederhana menjadi makin kompleks. Segala proses ini tidak berawal, tidak berakhir, dan berlangsung alamiah.

“Agama masa depan adalah agama kosmik. Melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini. Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan modern, itu adalah ajaran Buddha.” (Albert Einstein, 1939)

Sumber Pencantuman Ketuhanan
Konsep mengenai Adi Buddha dapat kita jumpai dalam
1.    Kitab Namasangiti Karanda Vyuha.
2.    Svayambu Purana
3.    Maha Vairocanabhisambodhi Sutra
4.    Guhya Samaya Sutra
5.    Tattvasangraha Sutra dan
6.    Paramadi Buddhodharta Sri Kalacakra Sutra.

Di Indonesia,
1.    Kitab Namasangiti versi Chandrakirti dari Sriwijaya dan
2.    Sanghyang Kamahayanikan pada jaman Pemerintahan Mpu Sindok.
 

Powered by SIDDHI Team & CitraSoft Technologies