SIDDHI Surabaya

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel Dharma Empat Langkah Buddhis Mencapai Kesuksesan

Empat Langkah Buddhis Mencapai Kesuksesan

E-mail Print PDF

Oleh: Haryanto Tanuwijaya

Setiap orang pasti menginginkan kesuksesan dalam hidupnya. Dengan kesuksesan mereka mengharapkan hidup yang lebih baik. Namun tidak semua harapan sukses dapat berjalan sesuai rencana. Ada yang berhasil namun tidak sedikit pula yang gagal. Belajar dari pengalaman orang-orang yang berhasil dan untuk menghindari kegagalan yang dialami orang lain, maka banyak bermunculan tulisan tentang langkah-langkah mencapai kesuksesan. Kalau diperhatikan, begitu banyak artikel yang menuliskan langkah mencapai kesuksesan. Ada yang menuliskan 7 langkah, 12, bahkan ada buku 40 langkah mencapai kesuksesan dalam pekerjaan. Bagi seorang Buddhis tersedia cukup empat langkah mencapai kesuksesan. Empat langkah yang dicetuskan oleh P.A. Payutto, yaitu Chanda, Viriya, Citta, dan Vimansa.


Dalam kehidupan, kita sering mendengar orang mengeluh sambil berkata, ”Sebenarnya saya tidak suka mengerjakan pekerjaan ini”, “Ini bukan pekerjaan yang saya inginkan”, “Saya terpaksa begini”, dan berbagai keluhan lainnya. Jangan heran bila beberapa bahkan puluhan tahun kemudian, orang seperti itu masih berkutat dengan pekerjaan lamanya tanpa ada kemajuan ataupun prestasi apapun. Untuk meraih sukses, kita harus memulai dari satu langkah kecil, yaitu menyenangi apapun yang akan kita kerjakan. Kata para bijak, jangan hanya mengerjakan apa yang kamu senangi, tetapi senangilah apa yang kamu kerjakan. Kalau kita mencintai apa yang kita kerjakan, tanpa kita sadari kita akan melakukannya dengan sepenuh hati. Inilah yang disebut dengan Chanda. Tidak peduli apa pekerjaan atau profesi kita, kita wajib mengerjakannya dengan senang hati. Biasakan untuk tidak mengeluh ketika pekerjaan bertambah, lakukan saja dengan senang hati, pasti pekerjaan tersebut terasa ringan. Orang memulai melakukan segala sesuatu dari Chanda, lambat laun namun pasti kesuksesan akan menghampirinya.

Namun perlu diingat, mencintai apa yang akan kita lakukan saja belumlah cukup membawa kita meraih kesuksesan. Selain Chanda, untukmenggapai kesuksesan dibutuhkan pula upaya (effort) yang kuat dari dalam diri kita sendiri. Inilah yang disebut dengan Viriya. Kita wajib menerapkan prinsip do the best (sering diplesetkan yu be des) dalam meyelesaikan segala sesuatu yang kita kerjakan disertai kedisplinan dan ketekunan. Jangan pernah mengeluh apalagi putus asa ketika menemui berbagai rintangan. Bhante Tejanando mengingatkan, ”Kita menemukan kesuksesan dengan belajar dari kegagalan. Mereka yang tidak menyadari kegagalannya tak akan menemukan kesuksesan dalam hidupnya.” Apabila kita kurang pengalaman, jangan mau bertanya pada mereka yang sudah sukses. Mau bertanya, sesat dalam kegagalan. Apabila tidak memiliki pengetahuan cukup, di abad informasi saat ini telah tersedia sumber pengetahuan yang berlimpah ruah. Bukan hanya dari buku, majalah atau berbagai artikel saja, namun kita dengan mudah dapat mengakses internet sebagai sumber informasi yang tiada batas. Belajar, do the best, disiplin, tekun, dan dengan upaya keras yang tiada henti (Viriya), niscaya kesuksesan akan dapat kita raih.

Setelah menerapkan Chanda dan Viriya, kita perkuat langkah kita dengan Citta. Langkah Citta berkaitan dengan komitmen kita pada pekerjaan. Seseorang yang memiliki komitmen akan memiliki ikatan erat pada apa yang dilakukannya. Bila kita memiliki komitmen pada pekerjaan kita, maka tanpa disadari kita akan mencurahkan segenap pikiran, perhatian, tenaga dan waktu kita untuk memperoleh keberhasilan. Mochtar Riady sukses karena nongkrongi bisnisnya sedangkan Putera Sampoerna karena ngeloni bisnisnya. Hermawan Kertajaya, satu dari 50 guru marketing dunia, mengistilahkan dengan ”eat, sleep, and dream with your business.”

Mengutip apa yang dikatakan Dipankara Jayaputra, pada dasarnya komitmen dapat dibagi ke dalam empat tingkatan. Komitmen tingkat pertama yaitu ketika orang berkata,”saya akan mencobanya.” Pada tingkat komitmen paling paling rendah ini, orang cenderung sekedar mencoba, lalu pasrah pada keadaan yang terjadi. Hasilnya? Tentu saja kegagalan yang dia peroleh. Kalaupun sukses itu hanyalah karena keberuntungan semata. Komitmen tingkat kedua adalah  ketika orang berkata, “saya akan melakukan yang terbaik yang dapat saya lakukan”. Pada tingkatan ini, orang sudah berani mencoba, namun masih diliputi keraguan dalam dirinya sehingga tidak yakin apakah ia akan berhasil. Orang dengan komitmen tingkat ini tidak memiliki Viriya di dalam dirinya sehingga mudah menyerah ketika menemui berbagai rintangan.

Komitmen tingkat ketiga merupakan tingkat komitmen yang dimiliki para juara pada umumnya. Orang dengan komitment ini berani berkata,”saya akan melakukan apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan.” Orang seperti ini telah menerapkan Chanda dan  Viriya sehingga dengan daya juang pantang menyerah disertai semangat berani berkorban demi mencapai impiannya. Lalu komitmen keempat seperti apa? Komitmen tertinggi yang hanya dimiliki segelintir orang adalah komitmen para juara sejati. Orang dengan komitmen keempat akan berkata pada dirinya, “saya pasti akan berhasil.” Komitmen ini memiliki nilai filosofi yang sangat tinggi, karena orang tersebut akan senantiasa berjuang pantang menyerah untuk meraih kesuksesan. Tidak ada kamus putus asa dalam dirinya. Yang ada dalam pikirannya adalah kekuatan positive thinking, imajinasi, dan cara-cara inovatif sampai kesuksesan yang diangankannya tercapai. Begitulah komitmen bekerja dalam diri kita, membuat kita menghayati apa yang kita kerjakan dan bekerja dengan penuh totalitas.

Last but not least, langkah terakhir meraih kesuksesan adalah Vimansa. Dalam mengerjakan segala sesuatu kita mungkin saja mengalami situasi dan kondisi pasang-surut, berhasil-gagal, untung-rugi,  maju-mundur, seperti halnya dua sisi mata uang. Agar kita dapat mempertahankan dan meningkatkan kesuksesan, kita butuh umpan balik (feedback) pada kita.  Kita perlu melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini. Di dalam manajemen pendidikan mengenal namanya self evaluation, evaluasi diri yang dilakukan oleh institusi itu sendiri terhadap pencapaian kinerja yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki kekurangan kita agar menjadi lebih baik. Inilah yang disebut sebagai Vimansa. Perubahan yang terjadi di luar sana begitu cepat. Kita harus senantiasa menyesuaikan diri terhadap perubahan agar tetap eksis. Evaluasi sangat berguna agar kita dapat instropeksi diri, menata kembali rencana dan strategi kita dalam menghadapi perubahan yang terjdai. Evaluasi memberikan umpan balik bagi kita untuk merencanakan perbaikan strategi atau cara yang lebih baik di masa yang kaan datang.

Sukses dan gagal memiliki perbedaan yang tipis. Untuk itu, kita harus menyelesaikan apa yang telah kita mulai dengan menerapkan Chanda, Viriya, Citta, dan Vimansa. Kita harus tetap fokus sampai tujuan kita tercapai. Ingat baik-baik, tidak ada orang yang gagal, yang ada hanyalah orang mudah menyerah. Sukses buat kita semua.


Sumber:
P.A.. Payutto.1996. A Constitution for Living. Buddhadhamma Foundation. Thailand.
_____. 2009. SinarDharma. Buddhist Education Centre Surabaya.
Dipankara Jayaputra.. 2009. Kualitas Komitmen Terhadap Pekerjaan Anda. Top-motivation.com.
Hermawan Kertajaya. 2010. Grow with Character!. Harian Jawa Pos.
Lalida. 2007. The Principles of  Success – Buddhist way. Lalida.wordpress.com.

 

Haryanto Tanuwijaya
Ketua Yayasan Pendidikan Metta
(Metta School)
Ketua SIDDHI Surabaya
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Sumber: SINARDHARMA Vol. 8 No. 2-3 / 2554 BE   Juni 2010-Pebruari 2011.

Last Updated on Thursday, 14 April 2011 17:18  

Powered by SIDDHI Team & CitraSoft Technologies