SIDDHI Surabaya

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel Dharma Ilmu Pengetahuan & Teknologi

Ilmu Pengetahuan & Teknologi

E-mail Print PDF
Article Index
Ilmu Pengetahuan & Teknologi
Ilmu Pengetahuan & Teknologi (II)
Ilmu Pengetahuan & Teknologi (III)
Ilmu Pengetahuan & Teknologi (IV)
Ilmu Pengetahuan & Teknologi (V)
All Pages

1.    Pandangan Buddhis
1.1.    Sikap terhadap pengetahuan
Pentingnya ilmu pengetahuan ditekankan pada agama Buddha. Menurut Khuddaka-Nikaya 817, semua ilmu pengetahuan, baika yang kelas tinggi, sedang, ataupun rendah, patut dipelajari, diketahui dan dipahami maknanya, walaupun tidak seluruhnya perlu diterapkan seketika, karena suatu hari kelak bila tiba saatnya, pengetahuan itu mungkin membawa manfaat. Namun pengetahuan dan moralitas patut dijaga keseimbangannya (AN.II.8).

Dalam Kalama-sutta, Buddha memberi nasihat kepada warga suku Kalama:
Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis dalam kitab-kitab suci, juga apa yang dikatakan sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka, juga apa yang katanya telah direnungkan dengan saksama, juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu atau karena ingin menghormati seorang petapa yang menjadi gurumu… tetapi terimalah kalau engkau sudah membuktikannya sendiri…
Sikap pemikiran demikian disebut “Ehipassiko” yang berarti “dating dan lihatlah”. Buddha juga mengajarkan hal yang sama kepada Upali, seorang penganut kepercayaan lain yang ingin berpindah menjadi pengikut Buddha (Upali-sutta, sutta ke-56 dari MN), tetapi Buddha malah mengatakan, “telitilah dahulu secara sempurna, [wahai] Upali, karena adalah baik bagi orang terkemuka seperti Anda, untuk meneliti [telebih dahulu] secara sempurna.” Buddha tidak langsung menerima Upali begitu saja, melainkan menganjurkannya untuk melakukan penelitian (dalam konteks sains disebut juga observasi) terlebih dahulu secara saksama. Dengan kata lain, Buddha menganjurkan kita untuk bersikap kritis terhadap klaim-klaim baru yang belum teruji. Sikap kritis tersebut membuat kita lebih berhati-hati untuk mengambil kesimpulan dan mendorong kita menganalisis lebih mendalam terhadap hal-hal yang baru. Sejarah sains mencatat bahwa banyak penemuan besar dihasilkan dari sikap kritis semacam itu. Sebagai contoh Nikolaus Kopernikus tidak mempercayai pendapat umum saat itu bahwa matahari berputar mengelilingi Bumi. Ferdinand Magelhaens, orang pertama yang mengelilingi Bumi dengna kapal, juga tidak mempercayai pendapat umum saat itu bahwa Bumi berbentuk seperti piringan datar dengan jurang tanpa batas pada tepinya. Pada zaman itu orang takut berlayar terlalu jauh karena khawatir akan tercebur ke jurang semacam itu. Pelayaran Magelhaens membuktikan bahwa pendapat tersebut salah. Inilah yang dinamakan observasi. Dari dua kasus diatas kita dapat mempelajari bahwa apa yang sudah menjadi pendapat umum sekalipun belum tentu mewakili kebanaran mutlak atau dengan kata lain bukan sesuatu yang harus dipercayai begitu saja.

1.2.    Akibat dari sikap terhadap ilmu pengetahuan
Semangat Ehipassiko seperti yang tercermin dalam Kalama-sutta  menyebabkan Buddhis lebih terbuka terhadap perkembangan baru di dunia sains. Seandainya suatu penemuan baru sains terbukti bertentangan dengan doktrin Buddhis  tertentu, maka Buddhis lebih siap mengadopsi penemuan sains dan tidak menanggapinya dengan sikap antagonis. Ini tercermin dari perjalanan sejarah agama Buddha yang tidak pernah mengalami konflik dengan dunia sains.

1.3.    Psikologi
Pada tahun 1974 Chogyam Trungpa, seorang guru Buddhis aliran Kaygu, meramalkan bahwa “agama Buddha akan dating ke Barat sebagai psikologi”. Pandangan ini diterima dengan skeptis pada waktu itu, tapi konsep Buddhis sesungguhnya telah memasuki arena sains psikologi. Beberapa teori psikologi modern seperti psikologi Rogerian, memperlihatkan paralel yang kuat dengan pemikiran Buddhis. Rune Johansson mengatakan,
Siapapun yang berpengetahuan baik tentang psikologi dan sejarahnya dan membaca Nikaya Pali mesti dikagetkan oleh fakta bahwa terminology psikologis adalah lebih kaya disini daripada literatur kuno lainya dan bahwa lebih bayak tempat dikhususkan untuk analisis psikologis dan penjelasan disini daripada literatur agama lain manapun.
Agama Buddha, kalau boleh dirangkumkan esensi ajaranya, terutama membahas pikiran dan metode mentransformasikannya. Penekanan terhadap aspek pikiran dalam agama Buddha tercermin dalam pembukaan kitab Dhammapada,
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaiki lembuh yang menariknya. (Dhp. 1).
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya  bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya. (Dhp. 2).
Dalam SN.V.120, pikiran dianalogikan dengan semangkuk air: pikiran yang tenang diibaratkan dengan semangkuk yang berisi air yang jernih dan tidak bergerak. Pikiran yang dipenuhi kemalasan seperti semangkuk air dimasukan sekumpulan rumput ganggang. Pikirang yang dipenuhi kegelisahan seperti semangkuk air yang permukaannya tersapu oleh angin hingga beriak; pikiran yang dipenuhi keragu-raguan seperti semangkuk air diaduk dengan Lumpur hingga keruh. “Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap; pikiran susah dikendalikan dan dikuasai. Orang bijaksana meluruskannya bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah” (Dhp. 33). Tanpa transformasi pikiran, hal itu sangat berbahaya karena “pikiran yang diarahkan dengan keliru bahkan dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar” (Ud. 4.3). Hal yang serupa dikatakan dalam Dhp. 42,
Luka dan kesakitan macam apapun dapat dibuat oleh orang yang saling bermusuhan atau saling membenci. Namun pikiran yang diarahkan sacara salah akan melukai seseorang jauh lebih berat.
Menurut agama Budddha, pikiran itu selalu mengembara jauh, tidak berwujud dan terletak jauh dalam lubuk hati. Buddha mengatakan kepada Mahakasyapa,
Lagipula, Mahakasyapa, pikiran seperti angin bertiup, yang tak dapat ditangkap oleh siapapun. Ia seperti air mengalir, muncul dan lenyap secara berkesinambungan. Ia seperti api dari lampu, yang disebabkan oleh beragam faktor. Seperti halilintar, karena ia lenyap dari momen ke momen. Ia seperti udara, yang terpolusi oleh debu objek luar. Ia seperti seekor monyet, karena ia melekat pada enam nafsu-indrawi secara bergantian. Ia seperti pelukis, karena mampu menciptakan sebab-musabab dan kondisi-kondisi karma yang banyak. (Ratnakuta-sutra)
Mereka yang dapat mengendalikan pikiran akan bebas dari jeratan nafsu indra (Dhp. 37). Namun nafsu indrawi dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik bagaikan hujan yang dapat menembus rumah beratap (Dhp. 13). Kondisi ini mengacu pada pikiran yang belum ditransformasikan, yang dipengaruhi oleh tiga jenis nafsu keinginan, yaitu kama-tanha (kehausan akan kenikmatan), bhava-tanha (kehausan akan kelangsungan hidup), dan vibhava-tanha (kehausan akan pemusnahan). Ini parallel dengan konsep Freud dalam eros, libido, dan thanatos.

Buddha, jauh sebelum Aquinas atau Heisenberg, menekankan keunggulan pikiran dalam persepsi dan bahkan dalam “penciptaan” realitas, seperti dikatakan dalam SN.I.39,
Dunia kehidupan dikendalikan oleh pikiran, oleh pikiran pula dunia kehidupan diganggu, pikiran itu sendirilah yang membawa semua hal dibawah kekuasannya.
Salah satu konsep sentral dalam agama Buddha adalah gagasan tentang “segala sesuatu diciptakan dari pikiran”. Perbedaan apapun antara subjek dan objek adalah khayal dan dipilah-pilah oleh kesadaran yang diskriminatif. Buddha menggunakan sebuah metafora :
Pikiran adalah seperti seorang artis
Yang melukis seluruh dunia…
Bila seseorang mengetahui cara kerja pikiran
Sebagaimana ia secara universal menciptakan dunia
Orang ini lalu melihat Buddha
Dan memahami sifat-dasar Buddha yang sejati dan actual. (Avatamsaka-sutra bab 20)
Kita menyangka bahwa kita sedang melakukan observasi terhadap alam, tetapi apa yang kita amati sesungguhnya adalah pikiran kita sendiri yang sedang bekerja. Kita adalah subjek dan objek dari metodologi kita sendiri. Lagi pula, pikiran ini melingkupi seluruh alam semesta; tidak ada yang berada diluar pikiran  dan tidak ada apapun yang tidak dikandung oleh pikiran, menurut Buddha.

Dalam bab 5, telah dibahas tentang lima skandha yang membentuk kepribadiaan seseorang serta Empat Kebenaran Mulia yang terdiri atas : kenyataan adanya dukkha, asal mulanya dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha.. Dalam kitab Abhidharma dan kitab aliran Yogacara seperti Lankavatara-sutra dan Samdhinirmocana-sutra, dijelaskan secara terperinci mengenai berbagai macam kondisi pikiran dan kategori kesadaran. Oleh sebab itu Dr. Carl G. Jung, seorang pendiri Psikologi Analitik dan pelopor Psikologi Modern menyatakan bahwa psikologi analitik sangat dekat persamaanya dengan metode agama Buddha yang esensinya terkait dengan masalah asal timbulnya penderitaan beserta metode mengatasinya, kategori mental states, dan pemahaman mendalam mengenai kesadaran (consciousness).

Agama Buddha aliran Yogacara menyebutkan bahwa dunia ini adalah manifestasi dari pikiran kita. Dunia dan alam semesta yang kita amati ini sesungguhnya merupakan proyeksi tiga dimensi dari pikiran kita sendiri. Pikiran adalah pelopor dan pencipta fenomena. Fenomena yang kita persepsikan sebagai realita bukanlah realita absolute karena masing-masing individu memproyeksikan dimensi pikirannya sehingga tidak ada realitas tunggal yang berlaku untuk semua orang. Masing-masing individu telah mendistorsi realita tersebut dengan kacamata berwarna yang diciptakan dari benih energi karma individu pada kehidupan-kehidupan sebelumnya. Hal ini dibahas oleh B. Alan Wallace dalam dua bukunya yang berjudul The Taboo of Subjectivity dan Choosing Reality. Michael Talbot dalam bukunya Holographic Universe mengumpamakan alam semesta tidak lebih nyata dibandingkan sebuah hologram yang merupakan suatu gambar tiga dimensi yang diproyeksikan ke dalam ruang (space) pikiran kita. Talbot, dalam bukunya Mysticism and The New Physics mengatakan, “kesadaran manusia mempengaruhi realitas.”

Para neurology mengklaim bahwa pikiran, kesadaran (awareness), dan kehendak, dapat dihubungkan dan dijelaskan dengan aktivitas di dalam otak. Teori ini dibantah 20 tahun yang lalu dengan penemuan Prof. Lorber terhadap seorang murid di Universitas Sheffield dengan IQ 126, tingkat kelas utama Matematika, tapi sama sekali tanpa otak (majalah Science, vol.210,12 Dec 1980). Belum lama ini Prof. Pim Van Lommel membuktikan eksistensi aktivitas kesadaran setelah dinyatakan meninggal secara klinis, yaitu ketika semua aktivitas otak telah berhenti (Lancet, vol.358, 15 Dec. 2001, p. 2039).

1.4.    Psikoterapi
1.4.1.    Dasar yang serupa
Empat kebenaran mulia dalam agama Buddha mengajarkan hakikat sejati penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Perjalanan spiritual seorang Buddhid dimulai dari kesadaran adanya penderitaan, dan didorong oleh keinginan untuk terlepas dari penderitaan dan menemukan kebahagiaan. Masalah penderitaan juga merupakan keprihatinan utama psikoterapi barat. Manusia mencari psikoterapis karena mereka menderita emosi yang negative, pemikiran, hubungan, dan pemgalaman yang menyakitkan. Demgan demikian, psikoterapi Barat dan agama Buddha berbagi tujuan yang sma, persamaan yang pertama. Emosi negatif seperti kekhawatiran, stress, depresi, kemarahan, rasa berdosa, rasa malu, frustasi, iri hati, cemburu dll, adalah bentuk-bentuk penderitaan. Penderitaan-penderitaan tersebut dating dari pikiran. Oleh sebab itu baik Psikoterapi Barat maupun agama Buddha menaruh perhatian utama terhadap pikiran.

Agama Buddha sendiri menganggap bahwa penderitaan bukan disebabkan oleh kejadian-kejadian luar tetapi kualitas pikiran yang membentuk persepsi dan respons kita terhadap kejadian-kejadian. Karenanya, kebahagiaan tidak ditemukan di dunia social luar, tapi dalam keadaan transformasi pikiran yang menghasilkan kebijaksanaan, ketenangan pikiran, dan welas asih. Para psikoterapis Barat juga percaya bahwa penderitaan tidak begitu banyak disebabkan oleh trauma-trauma eksternal, tapi lebih disebabkan oleh respons kita terhadap trauma-trauma ini. Renspons-respons ini dikondisikan oleh factor mental seperti nafsu keinginan dan ketakutan yang bisa ditolak dan ditekan. Ini adalah salah satu prinsip dasar dari psikoanalisis Freud. Penekanan pada aspek pikiran merupakan persamaan yang kedua.

Boleh dikatakan bahwa agama Buddha sesungguhnya lebih mirip dengan psikoterapi dari pada dengan agama-agama Barat. Alan Watts dalam bukunya Psychotherapy East and West mengatakan,
Kemiripan utama antara cara hidup Timur dan psikoterapi Barat ini adalah dalam urusan membawa perubahan kesadaran , perubahan dalam cara kita merasakan eksistensi kita sendiri dan hubungan kita dengan masyarakat dan dunia alamiah. Psikoterapis kebanyakan tertarik dalam mengubah kesadaran individu-individu yang mentalnya terganggu. Sedangkan disiplin agama Buddha dan Taoisme pada bagaimana mengubah kesadaran orang-orang yang normal dan beradaptasi dalam kehidupan social. Tetapi semakin jelas bagi psikoterapis bahwa keadaan kesadaran yang normal dalam kultur kita adalah konteks dan sarang penyakit mental.
Dalam beberapa decade terakhir telah terbit banyak buku yang menelaah komparisi antara psikoterapi dan agama Buddha. Misalnya Mark Epstein, dalam bukunya Thoughts Without a Thinker, menguraikan psikoterapi berdasarkan doktrin dan metode Bhuddis. John Welwood dalam bukunya Toward a Psychology of Awakening mengintegrasikan praktik spiritual Buddhis ke dalam psikoterapi Barat. Kitab Buddhis mengandung banyak ajaran yang berkaitan dengan pikiran dan metode terapeutik untuk menyembuhkan pemikiran yang besifat destruktif, yaitu gangguan mental (mental disorder). Gangguan mental mencakup fobia, neurosis, dan psikosis.

Dua konsep psikoterapi Barat yang fundamental adalah represi dan alam-tak-sadar. Konsep represi mirip dengan ketidaktahuan (avidya) dalam agama Buddha. Perbedaannya: avidya adalah kegagalan untuk menghadapi fakta-fakta dasar mengenai sifat dasar diri dan fenomena, sementara represi adalah kegagalan dalam arti yang lebih sempit untuk menghadapi berbagai realita kehidupan seseorang, terutama pengalaman pahit yang dialaminya. Represi muncul sebagai akibat reaksi defensif terhadap kecemasan, suatu bentuk penderitaan mental yang disiasati oleh banyak orang dengan alkohol dan narkoba. Dalam pandangn psikoterapi Barat, kandungan mental dan emosi dari pengalaman pahit ditekan, dimodifikasikan, dikurangi, dan dialami kembali sebagai neurosis.

Ketika terapi Buddhis dibandingkan dengan psikoterapi Barat, nampaknya psikoanalisis dapat disejajarkan dengan diskusi persiapan antara seorang guru buddhis dengan muridnya. Fungsi seorang guru/psikoterapis adalah menuntun pasien ke sebuah pejalanan penemuan-diri dan transformasi-diri yang dalam agama Buddha berakhir pada penemuan hakikat kehidupan yang sebenarnya.

Alam tak-sadar mengandung penyangkalan dan represi kita – kebohongan terdalam yang kita simpan. Gejala neurotic dan karakter pembelaan-diri kita adalah produk dari kebohongan terdalam. Carl Jung adalah orang pertama yang menemukakan korespondensi antara mimpi dan mitos. Mimpi menyingkapkan alam tak-sadar personal dan mitos menyingkapkan alam tak-sadar kolektif. Dia menyebut ruang lingkup penyangkalan dan represi dengan istilah “bayangan”. Terapi Jung sebagian besar terdiri dari menghadapi bayangan, menghadapi apa yang telah ditolak tentang dirinya dan kualitas pengalaman yang fundamental, yang ia sebut dengan “pola dasar” (archetype).

Freud juga secara eksplisit menguraikan tujuan psikoanalisis sebagai mengangkat isi alam tak-sadar menuju alam sadar. Dalam pandangan psikoanalitik, gangguan neurotik disebabkan oleh penyangkalan dan represi atas pengalaman yang menyakitkan, dimana pengalaman ini ditekan atau direpresi kea lam bawah sadar. Pembebasan dari penderitaan dilakukan dengan membawa pengalaman yang ditekan menjadi penyadaran (awareness) dan menyelesaikan satu per satu emosi-emosi yang menyakitkan (membawa kenangan bawah sadar itu kembali kea lam sadar). Dengan demikian, dalam terapi Freud dan Jung, ekspansi kesdaran memerlukan transformasi kesadaran batiniah manusia, yang juga merupakan tujuan dari praktik Buddhis.

Dalam pandangan Buddhis, avidya tidak hanya berhubungan dengan penyangkalan fakta tentang diri sendiri dan dunia, tapi juga menganggapnya sesuatu yang sesungguhnya tak pernah eksis. Keadaan ketidaktahuan ini juga disebut ilusi atau delusi. Berdasarkan pandangan Buddhis, semua fenomena merupakan ilusi, karena bila ditelaah ke dalam hakikat eksistensi terdalam mereka, tidak berhasil ditemukan suatu inti yang kekal dan independent. Misalnya kita melihat benda padat sebagai bersifat kekal, tapi mereka pada akhirnya akan mengalami pelapukan. Kebijaksanaan tertinggi dalam agama Buddha, kebijaksanaan yang merealisasikan kekosongan, memahami bahwa segala fenomena dan “diri” adalah tidak kekal dan tanpa substansi.

Kendati terdapat kemiripan antara psikologi Barat dan psikologi Buddhis, namun metode dan penekanan mereka berlainan. Psikologi Barat lebih menekankan memperhatikan perkembangan dari diri dan perilaku dari ego, dengan mengembangkan aneka teknik untuk mengembangkan suatu diri yang sehat dan utuh, sedangkan focus agama Buddha adalah menumbuhkan ketidaklekatan atas keadaan-keadaan emosi negatif yang merupakan sumber penderitaan mental, dengan konsep anatta dan ketidakkekalan. Kekuatan psikologi Barat terlekat pada fokusnya atas pembangunan karakter diri yang kuat, hubungan antar sesama, keakraban, dan panggilan tugas. Oleh sebab itu, agama Buddha, bisa juga mengadopsi teknik-teknik psikologi Barat dalam menganalisis emosi-emosi tanpa melekat pada emosi itu sendiri. Didasari sifat komplementer dari kedua disiplin tersebut, maka lahir suatu disiplin baru yang kini dikenal dengan istilah psikoterapi Bhuddis, yang merupakan perpaduan antara psikologi Barat dengan psikologi Buddhis.

1.4.2.    Definisi Buddhis bagi kesehatan mental
Orang yang kesehatan mentalnya terganggu tidak akan memiliki pengendalian pikiran, yang merupakan salah satu tujuan agama Buddha dalam aspek pengembangan spiritual. Dikatakan oleh Dhp. 35-36 bahwa
Sukar dikendalikan pikiran yang binal dan senang mengembara sesuka hatinya. Adalah baik untuk mengendalikan pikiran, suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan. Pikiran sangat sulit untuk diawasi, amat lembut dan halus, bergerak sesuka hatinya. Orang bijaksana selalu menjaga pikirannya, seseorang yang menjaga pikirannya akan berbahagia.
Dengan pengendalian pikiran yang baik, maka pikiran positif bisa dikembangkan lebih lanjut. Dalam strategi kognitif, seperti halnya agama Buddha, ditekankan untuk mengembangkan pikiran positif dan membuang segenap pikiran negatif. Salah satu metodenya adalah meditasi penembusan (vipassana) yang dipergunakan agama Buddha dalam mengenali akar dari pikiran negatif.

Contoh pikiran negatif adalah amarah. Setelah kita mengenali amarah dengan kekuatan meditasi penembusan, maka kekuatan dari emosi kemarahan akan berkurang dan suatu saat akan hilang. Semakin kita mengenali suatu pikiran negatif, semakin sulit bagi pikiran negatif itu untuk berkembang dan membuat pikiran kita menjadi kacau. Menurut psikoterapi maupun agama Buddha, kita harus berani menghadapi musuh dan berusaha mengenalinya sehingga suatu hari musuh tersebut menjadi teman baik kita. Kita tidak boleh lari dari musuh (pikiran negatif), karena suatu hari musuh tersebut pasti akan menyergap kita pada saat kita lengah. Sebaiknya kita mengenali musuh kita dan setelah mengenalinya, kita kemudian menganggapnya sebagai saudara sehingga musuh akan kehilangan senjata “serangan mendadak” dan akhirnya menjadi “jinak”.

Buddha memberikan resep agar kita selalu berpikiran positif demi mencapai kesehatan jiwa dan raga. Menurut Buddha, pemikiran negatif dan depresi mempengaruhi kesehatan seseorang. Suatu penelitian yang dilakukan oleh David Spiegel dan rekan-rekannya (Kraemer, Bloom, dan Gottheil) pada tahun 1989 telah membuktikan kebenaran bahwa pikiran yang depresi dapat memicu timbulnya atau memperparah penyakit. David Spiegel melakukan penelitiannya pada pasien penderita kanker dengan jalan memisahkan mereka menjadi dua kelompok, yang sama-sama mendapatkan terapi standar. Hanya saja perbedaannya, ada kelompok yang mengadakan pertemuan bersama guna memperkuat kondisi kejiwaan mereka seperti memecahkan berbagai masalah yang mereka hadapi, berbagai suka dan duka, menumbuhkan keberanian dalam menghadapi kematian, serta membangkitkan semangat hidup. Hasilnya, 48 bulan kemudian pasien kanker yang tidak berada di dalam kelompok pendukung tersebut hamper semuanya telah meninggal. Sebaliknya, pasien yang termasuk dalam kelompok pendukung dapat bertahan hidup lebih lama lagi. Kita melihat bahwa pikiran dapat menentukan kondisi fisik seseorang. Oleh karenanya, Buddha mengajarkan kita untuk selalu berpikir positif, tenang dan terkendali. Pikiran yang kacau dapat mendorong timbulnya penyakit.

Agama Buddha mempunyai metode praktis untuk menumbuhkan pemikiran yang positif yakni dengan melaksanakan Empat Brahma Vihara, yang terdiri dari: metta, karuna, mudita, dan upekkha. Metta berarti cinta kasih universal; karuana berarti welas asih, turut merasakan penderitaan makhluk lain;  mudita berarti ikut bergembira atas kesuksesan orang lain; dan upekkha berarti keseimbangan batin, tanpa membedakan musuh dan teman, sedih dan gembira, dan lain sebagainya.

Kita ambil contoh mudita. Dengan bermudita berarti kita tidak merasa iri melihat kebehasilan orang lain. Dengan menghindarkan diri dari rasa iri, maka kita menjauhkan diri dari pikiran yang terdepresi. Melatih keseimbangan batin (upekkha) berarti kita berusaha untuk tidak merasa senang atau sedih apabila dipuji atau pun dicela. Memang kesemua hal tersebut diatas tidak semudah membalik telapak tangan karena kita membutuhkan suatu latihan kejiwaan yang oleh Buddha disebut praktik Dharma. Praktik ini melibatkan seluruh aspek kehidupan kita sehingga kita dapat mencapai sepeti apa yang dicapai Buddha yaitu Pencerahan Sempurna.

Dalam bidang psikoterapi belum tercapai konsensus standar kesehatan mental yang baku. Semua standar yang diajukan sangat teoritis dan sering dipengaruhi oleh nilai kultural Barat. Kesehatan mental yang diaspirasikan oleh Buddhis adalah mencapai kepribadian sehat yang disebut Arahat. Sifat-sifat kepribadiaan sehat tersebut telah ditransformasikan secara permanent dimana semua motif, persepsi, perbuatan yang sebelumnya dilakukan dibawah pengaruh factor-faktor tak sehat akan lenyap. Rune Johansson, dalam karyanya The Psychology of Nirvana, mengali dari Abhidharma mengenai cirri-ciri khas kepribadian seorang Arahat, yang mana hal tersebut meliputi:
-    Keterbebasan dari rasa tamak, ketakutan, kebencian, pandangan sempit, hawa nafsu, kemarahan, sikap membeda-bedakan, dan lain sebagainya.
-    Diliputi oleh sikap-sikap seimbang dalam memandang orang lain, tenang dalam semua keadaan, waspada, keterbukaan, kepekaan, dan lain sebagainya.
Transformasi kepribadian semacam itu yang dianggap terlalu radikal oleh dunia Barat, sangat jauh melampaui tujuan dan harapan terapi kejiwaan (psikoterapi) Barat. Dilihat dari kacamata parapsikolog di dunia Barat, sifat-sifat kebajikan tersebut terlalu susah dan mulia untuk diwujudkan. Meskipun demikian, seorang arahat mempuyai sejumlah kemiripan dengan orang-orang yang mengalami aktualisasi sepenuhnya sebagaimana yang tercantum pada tulisan-tulisan Maslow dan Rogers. Selain itu, arahat adalah suatu tipe ideal hasil pencapaian akhir suatu pelatihan bertahap yang tidak mungkin hanya terjadi semalam saja.

Dalam berbagai kesempatan dialog yang berlangsung dalam beberapa dekade terakhir antara Timur dan Barat dalam hal psikologi serta psikoterapi, dapat disimpulkan bahwa metode psikoterapi dan ajaran ilmu kejiwaan di Barat belum mencapai tingkatan yang dikehendaki oleh filsafat Timur. Medrad Boss, seorang filosof Swiss yang terkemuka, pernah menyatakan bahwa dipandang dari sudut filsafat timur, metode-metode dan tujuan psikoterapi Barat masih belum dapat dianggap memadai. Menurut Boss, jika dibandingkan dengan tingkat pemurnian diri yang menjadi tujuan latihan spiritual dunia Timur, maka “latihan kejiwaan Barat yang paling baik sekalipun tidak lebih dari suatu kursus pengantar saja bagi praktik spiritual dunia Timur”.

 



Last Updated on Thursday, 04 December 2008 17:45  

Powered by SIDDHI Team & CitraSoft Technologies