SIDDHI Surabaya

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel Dharma Seni, Tradisi Dan Budaya

Seni, Tradisi Dan Budaya

E-mail Print PDF

A. Tradisi dan Budaya
Dalam kehidupan bermasyarakat kita dapat menjumpai beragam tradisi dan budaya yang berkembang di sekitar kita. Tradisi dan budaya tersebut merupakan hasil kreasi dan kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat di daerah tersebut. Setiap tempat memiliki keunikannya tersendiri. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh tempat, keadaan alam, pola kehidupan dan cara berpikir masyarakat di daerah itu.

Tradisi dan Budaya ini begitu erat mempengaruhi kehidupan kita. Di antara tradisi dan budaya ada yang selaras dengan Dharma dan ada pula yang tidak sejalan dengan Dharma. Sementara kita yang hidup di sana tidak bisa lepas dari masyarakat di sekeliling kita.

 

Bagaimana sikap kita sebagai seorang Buddhis yang baik ?” Terhadap tradisi dan budaya yang baik kita tetap pertahankan, sementara yang tidak sejalan kita tidak ikuti, apalagi kalau diterapkan akan menimbulkan penderitaan bagi makhluk yang ada di sekitar kita. Sisi lain dalam Dharma kita dituntut cinta kasih.

Sejarah perkembangan dan penyebaran agama Buddha terjadi proses asimilasi/ perpaduan agama Buddha dengan budaya setempat. Sehingga menambah kekayaan seni dan budaya. Hal ini dapat kita lihat penyebaran ke Negara China terjadi perpaduan dengan budaya China, Thailand terjadi perpaduan dengan budaya Thailand, termasuk Indonesia terjadi perpaduan dengan budaya Indonesia.

B. Upacara Pengorbanan
Upacara pengorbanan makhluk hidup apalagi manusia untuk mendapatkan keselamatan dan menolak mara bahaya, hal tersebut tidak diajurkan untuk dilaksanakan.

Pada saat masih sebagai Bodhisatva, pertapa Gotama melihat ada sekelompok domba yang diarak menuju suatu tempat persembahan api di suatu lapangan terbuka. Di antara kelompok domba tersebut ada seekor domba yang kakinya terkilir, Bodhisatva yang penuh cinta kasih dan kasih sayang menggendong domba yang malang tersebut sambil mengikuti kelompok domba tersebut.

Saat bertemu dengan pendeta upacara, Boddhisatva pun bertanya kepadanya, “Mengapa ada begitu banyak domba yang dibawa ke tempat persembahan api ini ?” Pendeta itu pun menjawab, “Domba-domba ini akan kami persembahan kepada dewa api agar dewa tidak mendatangkan mara bahaya.” Mendengar penjelasan yang disampaikan oleh  pendeta tersebut, Bodhisatva pun berkata, “Wahai pendeta, apabila ada dewa yang mengharapkan upacara apalagi pengorbanan makhluk lain, maka dewa tersebut bukanlah dewa yang baik, pastilah dewa yang jahat. Bagaimana dapat memberikan perlindungan !”

Kisah lain berkenaan dengan hal tersebut dapat dilihat pada jataka, yaitu kisah mengenai seekor kambing.
Pada jaman dulu kala hiduplah seekor kambing yang memiliki keunikan di antara kambing lainnya. Suatu hari pendeta upacara mengumpulkan sekelompok kambing dan dituntun ke tempat untuk upacara pengorbanan. Di antara kambing tersebut ada seekor kambing menunjukkan perilaku aneh. Sebentar kambing tersebut tertawa terkekeh, sesaat kemudian menangis.

Hal tersebut mengundang rasa ingin tahu asisten pendeta pelaksana upacara tersebut. Asisten ini pun bertanya, “Wahai kambing, mengapa engkau bersikap seperti ini ?” Kambing menjawab, “Tuan, saya tidak akan menceritakan kepada Anda. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban, panggilkan majikan anda. Saya akan menceritakan kepadanya.” Meskipun asisten tersebut terus mendesak kambing ini tetap pada pendiriannya. Akhirnya asisten ini menyerah dan menemui atasannya. Dia mencerikan apa yang dia temui tersebut. Majikannya yang mendengar kisah tersebut pun penasaran kemudian mereka menghampiri kambing yang dimaksud tersebut sambil bertanya, ”Wahai Kambing mengapa hari ini engkau memiliki perilaku aneh?”

Kambing itu pun menjawab, “Wahai Tuan, hari ini saya tertawa terkekeh, karena hari ini adalah hari terakhir kehidupan saya harus memetik karma yang telah saya lakukan. Sementara Saya menangis karena saya kasihan sama anda. Dulunya Saya pun seperti anda sebagai pendeta pemimpin upacara pengorbanan akibat dari perbuatan tersebut selama 100 kelahiran saya mengalami penderitaan. Setiap kematian dari kehidupan tersebut kepala saya terus berpisah dengan tubuh jasmani. Sungguh tidak menyenangkan !” Hari ini, saya melihat anda akan melakukan perbuatan yang sama seperti yang telah saya lakukan sebelumnya. Anda masih belum menghentikannya. Alangkah menyedihkan !”

Pendeta itu pun menyatakan, “Wahai kambing, hari ini engkau tidak perlu takut mati. Saya menjamin tidak akan menjadikan engkau sebagai korban upacara persembahan tersebut. Namun kambing ini pun menjawab, “Terima kasih, Tuan, tetapi karma yang telah saya lakukan tersebut tidak dapat dihindari. Saya akan mengalami kematian kepala berpisah dari tubuh ini. Itulah karma yang saya harus petik.

Malam harinya, hujan turun deras disertai angin yang kencang. Kambing ini berteduh di bawah bukit tersebut. Tiba-tiba ada batu cadas jatuh dari atas bukit dan batu cadas tersebut menghantam mengenai kambing tersebut tepat di lehernya dan kambing itu mati seketika dengan keadaan kepala berpisah dari tubuhnya.

Apa yang dilakukan kelihatannya perbuatan biasa ternyata membawa akibat sungguh menyakitkan. Tentu hal tersebut tidak patut untuk dilanjutkan. Berkaitan dengan upacara pengorbanan ada saja orang memanfaatkan untuk kepentingan pribadinya. Mereka berharap dengan upacara tersebut dapat memperoleh keuntungan atas acara tersebut. Hal ini memang sangat ironis dan tidak patut ditiru.

Pada jaman dulu di negeri China ada upacara pengorbanan anak gadis dipersembahkan untuk penghuni sungai di daerah tersebut agar penghuninya tidak marah dan membawa bencana. Penduduk yang memiliki anak perempuan selalu merasa tertekan dan sedih. Karena setiap tahun selalu ada upacara demikian. Kejadian ini didengar oleh seorang jenderal yang cerdas dan bijaksana. Pada hari upacara tersebut dilaksanakan, jenderal ini ikut menghadiri.

Pemimpin upacara tersebut pun memimpin upacara dan melakukan persembahan. Pada saat mau mempersembahkan anak gadis yang telah dipilih. Meskipun anak gadis ini merontah-rontah. Pemimpin upacara tersebut tidak memperdulikan. Seakan-akan dia tidak memiliki belas kasih sama sekali. Pada saat dia mau menengelamkan korban gadis tersebut. Jenderal yang cerdas dan bijak seketika menghentikan dan berkata, “Wahai, Pendeta sebelum anak perempuan ini dikorbankan, kita perlu mengetahui apakah dewa penunggu sungai hari ini merasa cukup terhadap apa yang kita lakukan. Semua orang yang hadir menyetujui usulan jenderal tersebut. Jenderal itu melanjutkan, “Namun untuk mengetahui hal itu, kita minta pemimpin upacara untuk menghubungi penghuni sungai ini karena selama ini dia adalah penghubung dengan dewa tersebut.” Pendeta itu terkejut dan tindak menyangka apa yang dia dengar. Dia menjadi begitu ketakutan. Jenderal ini langsung memerintahkan prajuritnya untuk melempar pendeta tersebut ke sungai yang amat dalam. Karena tidak bisa berenang pemimpin itu pun tenggelam.
Setelah lama menunggu tidak ada kabar dari pendeta yang dikirim ke sungai, kemudian jenderal melanjutkan, “Kita kirim orang lagi untuk mengingatkan pemimpin itu cepat kembali. Pada saat ini dia langsung memerintahkan prajuritnya untuk melempar pembantu-pembantu pemimpin upacara. Masih tidak ada yang muncul kemudian dia melempar kepala desa yang menyelenggarakan upacara tersebut.

Setelah itu jenderal tersebut dengan lantang berujar, “Mulai hari ini upacara tersebut tidak boleh dilakukan lagi, barangsiapa melakukan maka akan bernasib sama dengan pemimpin upacara tersebut. Dengan kejadiaan ini penduduk menjadi senang dan tidak khawatir lagi akan kehilangan keluarganya dan desa itu pun menjadi aman dan tentram.

Pada salah satu kisah jataka, Buddha bersabda pergorbanan yang terbesar adalah melatih 5 latihan moral.

C. Puja
Menghormat kepada orang yang pantas di hormati adalah berkah termulia (mangala sutta).

Kata Puja dalam Bahasa Indonesia merupakan kata benda yang artinya adalah penghormatan. Penghormatan dalam agama Buddha adalah penghormatan yang wajar dan didasari pengertian benar (sarana pengembangan batin yang berkuwalitas) dan di tujukan kepada sesuatu yang layak di hormati. Berbagai bentuk puja dan upacara merupakan UPAYA KAUSALYA yaitu suatu metode/upaya untuk mempermudah dalam menuntun memahami Dharma yang sulit.

Makna puja
1.    Memperkuat keyakinan terhadap Tiratana/Triratna
2.    Menyatakan tekad (adithana) untuk mempraktekkan Dharma
3.    Menghormat dan merenungkan sifat luhur Tiratana/Triratna
4.    Mengembangkan empat kediaman luhur brahma vihara
5.    Melakukan Anumodana yaitu membagi kebahagiaan terhadap semua makhluk

Manfaat melaksanakan puja
1.    Memiliki keyakinan (saddha)
2.    Memiliki brahma vihara (empat sifat luhur)
3.    Pengendalian diri (samvara)
4.    Perasaan puas (santhuti)
5.    Kedamaian dan kesabaran (khanti)
6.    Kebahagiaan (sukha)

Pembacaan Paritta merupakan perlindungan yang kuat yang dapat di baca, di lafal maupun didengarkan. Pembacaan paritta menimbulkan ketenangan batin bagi mereka yang mendengarkan dan telah mempunyai keyakinan akan kebenaran dari Buddha

Doa memiliki kekuatan, Doa tidak akan berhasil karena ada tiga sebab :
1.    Ada perbuatan tertentu yang tidak dapat di halangi dengan kekuatan apapun ( halangan kamma)
2.    Batin orang yang di bacakan paritta/orang yang membacakan di liputi keragu-raguan, hawa nafsu (halangan kekotoran batin)
3.    Halangan karena kurang keyakinan kepada kemanjuran paritta

Sikap Puja
1.    Anjalipada, merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada
2.    Namakkhara, bersujud dengan pacangga patittha (lima titik tumpu menyentuh lantai)
3.    Padhakkhina, Bersikap anjali,berjalan tanpa alas kaki mengelilingi obyek puja sebanyak 3x searah jarum jam.

Dharani/ Mantra
Bentuk yang lebih singkat dari sutra. Bentuk yang lebih pendek dari Dharani adalah MANTRA. MANTRA  tidak dapat diterjemahkan dengan tepat karena mantra sulit untuk di pahami, di bayangkan atau digambarkan, tetapi dapat dirasakan manfaat dan kekuatannya.

Rupang/ patung
Pratima Buddha atau Patung Buddha yang terdapat di altar memilki arti dan makna penghormatan dan ungkapan  rasa terima kasih kepada Buddha yang telah mengajarkan Dharma untuk kebahagiaan semua makhluk, menghapus kegelapan membawa pada pandangan terang. Selain itu Buddharupang merupakan simbolis dari prilaku kita yang bertekad akan meneladani sifat-sifat luhur Buddha dan menjalankan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

D. Benda-benda Persembahan
1. Lilin
Lilin melambangkan : Penerangan untuk mencapai tujuan. Suatu pengorbanan diri yang tulus, sebagaimana dapat dilihat dengan nyata, lilin yang disulut dan meleleh, merelakan tubuhnya habis terbakar untuk memberikan penerangan. Kehidupan yang pada suatu ketika akan padam (mati) seperti padamnya lilin yang telah habis terbakar. Demikian pula kita diharapkan dapat menerangi diri dan sekeliling kita yang masih diliputi oleh kegelapan batin. Sebagai orang yang sadar kita tidak akan terbawa emosi, kemarahan, kebencian karena ketidakwaspadaan dari perbuatan yang dilakukan oleh orang yang tidak mengerti

2. Air
Air adalah sumber kehidupan makhluk hidup. Air melambangkan kesucian diri seperti sifat air yang bisa membersihkan noda-noda. Air akan selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, sehingga air dilambangkan sebagai rasa rendah hati atau tidak sombong.

3. Dupa
Melambangkan harumnya Dharma dan ketidak kekalan dari kehidupan. Dupa yang harum mewangi akan tersebar ke segenap penjuru arah, demikian juga dengan nama harum seseorang akan menyebar ke seluruh penjuru. Bahkan harumnya nama baik bisa melawan arah angin.

4. Buah
Mempersembahkan buah di meja altar bukan dimaksudkan untuk dipersembahkan agar disantap Sang Buddha atau para Dewa. Tetapi merupakan symbol dari rasa terima kasih kepada Sang Buddha yang telah berjasa karena telah membabarkan Dharma kepada umatnya. Perbuatan baik akan mebawa kepada kebahagiaan, perbuatan jahat akan membawa penderitaan, seperti buah dengan berbagai ukuran demikian pun jenis perbuatan kita akan berakibat banyak ragam hasilnya

5. Bunga
Bunga adalah lambang ketidak kekalan suatu benda di alam semesta ini. Cobalah perhatikan bunga yang dirangkai nan indah tak berapa lama akan berangsur–angsur menjadi layu, membusuk, kering, dan akhirnya lenyap dari meja altar dan kemudian diganti dengan bunga yang lain.

6. Makanan
Mempersembahkan makanan di altar mempunyai arti yang sama dengan persembahan buah, yaitu sebagai ungkapan terima kasih, karena apa yang di tanam pasti akan membuahkan hasil. Makanan yang kita makan berfungsi untuk menunjang kelangsungan hidup, karena tanpa makanan badan akan menjadi lemah/ rusak.

7. Delapan Persembahan
-    Payung Agung memberikan perlindungan bagi segala pengaruh jahat ;
-    Panji Kemenangan menyatakan kemenangan ajaran Buddha terhadap keperdulian ;
-    Kerang putih, Kerang berukir ke kanan ditiup untuk memproklamirkan pencerahan Buddha ;
-    Dua Ikan Mas batin yang terbebas dari lautan samsara ;
-    Harta Karun pencerahan   batin yang sangat berharga ;
-    Simpul Abadi diagram keberuntungan cinta kasih dan  harmoni yang tak terbatas ;
-    Cakra Emas dharma dengan  jalan beruas delapan ;
-    Bunga Teratai kemurnian batin dan pedoman hidup.

E. Alat-alat Persembahan
1. Cakra
Cakka atau cakra ini dikenal dalam agama Buddha sebagai Dhammacakka yang berarti Roda Dhamma. Cakka atau cakra adalah suatu bentuk lingkaran dengan delapan jari-jari. Cakka melambangkan jalan utama berunsur delapan Hasta Ariya Marga yang merupakan jalan suci untuk mencapai Nibbana.
1. Pandangan benar (samma ditthi)
2. Pikiran benar ( samma sankappa)
3. Ucapan benar (samma vacca)
4. Perbuatan benar (samma kammanta )
5. Mata Pencaharian benar (samma ajiva)
6. Usaha benar (samma Vayama)
7. Perhatian benar (samma sati)
8. Konsentrasi benar (samma samadi)

2. Daun Bodhi
Daun Bodhi sebagai lambang untuk mengenang kembali umat Buddha, dimana Daun Bodhi mempunyai sejarah bahwa di bawah Pohon Bodhi yang rindang itu Pertapa Sidharta Gotama mencapai Penerangan Sempurna (Bodhi) dan menjadi Samma-sambuddha.

3. Swastika
Swastika dipandang suci oleh umat Buddha karena melambangkan asal mula kehidupan, kekekalan atau pembauran kehidupan yang tidak terbatas, yakni kelahiran yang berulang-ulang. Swastika adalah bangun segi empat buah huruf ”L” dalam kedudukan bujur sangkar.


4. Stupa atau Pagoda
Stupa atau Pagoda adalah suatu tempat untuk menyimpan relik orang-orang suci. Bangunan Pagoda bagian atas disebut " Payung Tiga Tingkat" melambangkan Tri Ratna yaitu  Buddha, Dhamma, Sangha. Di atas  pagoda ada suatu struktur yang meruncing ke atas dan  karakteristik lambang konsentrasi yang diikuti melalui/sampai waktunya terpusat lebih itu dan memperlancar melakukan suatu Meditasi Budha.

5. Teratai
Teratai melambangkan kesucian dan keteguhan hati, meskipun hidup didalam lumpur tetapi menghasilkan bunga yang indah dan menarik bagi yang melihatnya.

Last Updated on Saturday, 29 November 2008 15:11  

Powered by SIDDHI Team & CitraSoft Technologies