SIDDHI Surabaya

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel Dharma 8 Lambang Keberuntungan

8 Lambang Keberuntungan

E-mail Print PDF
Article Index
8 Lambang Keberuntungan
8 Lambang Keberuntungan (II)
8 Lambang Keberuntungan (III)
All Pages

Delapan simbol keberuntungan adalah simbol-simbol yang sering kita jumpai pada vihara-vihara maupun pada waktu pelaksanaan ibadah agama Buddha. Apakah semua dari kita sudah mengetahui arti dari simbol-simbol tersebut? Berikut adalah penjelasan untuk masing-masng dari 8 simbol keberuntungan tersebut.

 

THE PARASOL

THE PARASOLIni payung terbuka, satu sampai tiga (susun) payung kehormatan, cukup besar untuk paling tidak 4 sampai 5 orang berdiri dibawahnya. Kain Sutra berwarna kuning, putih (sesuai dengan kondisinya), atau berwarna warni direntangkan pada jari-jari kayu. Dilengkapi dengan renda dari sutra lebar dan terlipat. Setiap tambahan payung ditunjukan oleh lipatan bidang-bidang kain sutra, yang dijahit pada pinggiran yang lebih rendah dari payung dengan merata diatasnya. Pita sutra 8 tunggal atau berwarna warni dengan pinggiran tergantung dari sisi atas dari renda teratas turun dengan tepat ke sisi bawah dari yang terendah. Atasnya terdapat hiasan puncak dengan aneka bentuk dan ukuran. Bahan pokoknya juga dari kayu yang kadang-kadang meluncur, tapi biasanya di cat merah.

Arti payung sebagai simbol tidaklah terlalu misterius. Kemampuannya untuk melindungi seseorang melawan cuaca buruk adalah selalu, di semua kultur, menjadi simbol status. Kenyataannya, walaupun di Eropa hingga beberapa dasawarsa lalu, penutup/pelindung dari sinar matahari merupakan simbol status untuk masyarakat wanita. Beberapa ribu tahun lalu di negara seperti India, siapa saja yang memiliki obyek mewah pasti seseorang yang kaya. Dan jika, dalam tambahan, ia mempunyai pembantu yang membawakan payungnya, tentu saja tingkatan dan hartanya nyata-nyata ada. Kemudian, perkembangan arti payung sebagai simbol kekuasaan atau tingkat kemegahan mudah diketahui. Juga, kenyataan bahwa payung melindungi yang membawa dari panas matahari dipindahkan dalam lingkungan religius sebagai pelindung melawan panas dari perbuatan-perbuatan jahat (nyon-mongs, skt. Klesa):

Sudah ada payung di India lebih dari 3 tingkat. Contohnya, kita belajar dari biografi Atisha bahwa beliau berhak atas payung susun 13 kehormatan. Dalam seni Tibet, ini direpresentasikan dalam gambar-gambar dan gulungan-gulungan lukisan (thang-ga) sebagai tumpukan diatas yang lainnya.

Tibetan mengambil alih payung dari seni Indian. Orang religius terkemuka berhak untuk payung sutra, dan penguasa duniawi dengan payung disulam dengan bulu merak. Jika beberapa kepribadian dalam kehidupan publik, seperti Dalai Lama, berhak keduanya, pertama payung bulu merak di bawa dibelakang beliau dalam urutan pawai, dan kemudian payung sutra, masing-masing dengan 3 renda. Tapi banyaknya renda tidak dipakai simbol lebih dari 1 payung; itu hanya masalah perasaan pribadi. Di Tibet, tidak pernah ada banyak payung ditumpuk satu dengan yang lain seperti yang ada di India. Pertimbangan sederhana membuatnya tetap seperti biasa, bentuk portabel.

Diantara ke 8 simbol, payung sebagai simbol kekuatan spiritual dalam hal positif, sama dengan simbol-simbol lainnya (misal, 7 permata dari kekuasaan Raja), Arti simbol ini dipindahkan dari tingkat duniawi ke tingkat spiritual. 

 

THE GOLDEN FISHES

THE GOLDEN FISHESIstilah Sansekerta matsyayugma berarti ‘sepasang ikan’. Berasal dari sebuah simbol pra-Buddhis kuno tentang kedua sungai utama di India, Gangga (Ganga) dan Yamuna. Secara simbolis kedua sungai ini menggambarkan saluran bulan dan matahari, yang berasal dari lubang hidung dan membawa irama nafas atau prana. Dalam Buddhisme, ikan mas melambangkan kebahagiaan, sebab ikan-ikan tersebut memiliki kebebasan sempurna di dalam air. Ikan-ikan tersebut melambangkan kesuburan dan kekayaan (berlimpah-ruah) sebab ikan-ikan tersebut berkembang biak dengan cepat. Ikan-ikan sering berenang berpasangan, dan di negeri China ikan mas melambangkan kesatuan dan kesetiaan hubungan perkawinan, dimana sepasang ikan sering dijadikan hadiah pernikahan. Ikan begitu banyak di China dan menjadi bagian penting kebutuhan pokok, kata dalam bahasa China yu berarti ‘ikan’ dan juga berarti ‘kekayaan yang melimpah ruah’ – yang bersinonim dengan kesejahteraan materi.

Dua ikan mas sering digambar dalam bentuk ikan gurami, yang secara umum dianggap sebagai hal yang sakral di Asia Timur berdasarkan cerita tentang keanggunan, ukuran dan masa hidup. Di danau sakral, seperti Tsho Pema sebelah barat laut India yang dipercaya sebagai tempat lahirnya Padmasambhava, gurami mas yang besar dengan tidak sabar menerima makanan dari tangan para peziarah. Sepasang ikan membentuk sebuah simbol umum yang menguntungkan dalam tradisi Hindu, Jain dan Buddhis. Dalam seni Buddhis, sepasang ikan mas sering dilukiskan saling menyentuh hidung.



Last Updated on Wednesday, 11 February 2009 15:19  

Powered by SIDDHI Team & CitraSoft Technologies