SIDDHI Surabaya

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel Dharma Hukum Karma

Hukum Karma

E-mail Print PDF
I. PENGERTIAN UMUM
Dalam Anggutara Nikaya III : 145, Buddha bersabda, “Oh, para Bhikkhu kehendak untuk berbuat itulah yang kami namakan karma, setelah dengan kehendak orang melakukan perbuatan lewat pikiran, ucapan dan tubuh jasmani.
Perbuatan yang dilakukan tersebut menjadi benih bagi pembuat dan tersimpan dengan baik. Setiap saat memiliki kemungkinan untuk tumbuh. Meskipun untuk tumbuh dibutuhkan kondisi yang sesuai, antara lain benih perbuatannya telah matang, keadaan mendukung atau telah waktunya, maka sangat sulit bagi siapapun untuk terhindar dari hasil perbuatannya tersebut. Seperti halnya benih tanaman, apabila benihnya unggul, lahan subur, unsur hara yang cukup, cuaca sesuai dan kadar air cukup, maka benih tersebut dapat tumbuh mencari tanaman dengan sendirinya.

Umumnya kita sering mengeluh mengenai apa yang telah kita lakukan dan banyaknya liku-liku perjalanan hidup yang dialami selama ini. Mengapa perbuatan baik yang telah dilakukan tidak berbuah ?” Sementara orang yang hidupnya tidak sesuai dengan Dharma kelihatannya begitu berbahagia atas perbuatan jahatnya dan tidak ada tanda-tanda mengalami halangan apapun. Kalau mau dikatakan lancar-lancar saja hidupnya. Meskipun ada gangguan atau halangan tetapi tidak begitu berarti. Pernyataan ini tidak bermaksud untuk mendoakan agar mereka celaka, tetapi hanya sebagai pembanding atas keadaan yang kita terima. Apalagi dengan mereka yang hidupnya sesuai dengan Dharma, mereka menjalani kehidupan secara jujur, benar dan beretika. Tetapi mengapa kenyataan hidup yang diterimanya jauh berbeda, malah lebih sering terlihat dimanfaatkan oleh orang lain. Apalagi kalau dilihat dari sisi pengumpulan materi jelas kekayaan mereka jauh tertinggal.

Keluhan terbesar yang lainnya, yaitu Mengapa dalam kehidupan ini selalu saja ada masalah yang terjadi ?” Apakah ada akhir dari permasalahan tersebut !” Memang itulah dilema yang sering kita jumpai. Jarang sekali kita temukan orang yang dapat merasa puas terhadap keadaan yang telah mereka terima. Lebih banyak mereka melihat keluar dan ke atas, tidak pernah mau melihat ke bawah.

Terlepas dari persepsi apapun, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya sendiri. Mereka tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Termasuk orang-orang yang memiliki hubungan keluarga terdekat. Mereka tidak akan memetik perbuatan yang tidak dilakukannya sendiri. Karena karma yang telah dilakukan tidak akan tertukar dengan karma orang yang lain. Seperti orang yang rajin belajar dan pandai dengan orang yang bodoh dan pemalas.  Hasil akhir orang yang rajin dan pandai dia akan menjadi juara di kelasnya sementara yang malas dan bodoh mereka akan tertinggal. Jadi, kepintaranya tidak akan tertukar dengan orang yang bodoh.

Dengan pengertian tersebut, sebetulnya kita tidak perlu merasa takut terhadap akibat yang akan terjadi. Mengapa ? Karena apa pun yang kita alami adalah hasil dari perbuatan kita sendiri, bukan berasal dari orang lain. Kita tidak menerima keburukan atau kejahatan yang orang lakukan. Apa yang kita terima selama ini adalah hasil dari perbuatan kita sendiri,  kita memetik atas jerih payah sendiri. Makanya dalam karma disebutkan kita adalah pemetik, penerima, ahli waris dari perbuatan yang kita lakukan. Baik atau buruk perbuatan itulah yang akan kita alami. Hal ini dapat kita lihat pada Culakammavibhanga Sutta, Majjhima Nikaya, berbunyi sebagai berikut : ‘…, setiap makhluk adalah Pemilik Karmanya Sendiri, Pewaris Karmanya Sendiri, Lahir dari Karmanya Sendiri, Berhubungan dengan Karmanya Sendiri dan Terlindung oleh Karmanya Sendiri. Karma yang menentukan makhluk-makhluk, menjadikan mereka Hina dan Mulia’    

Kalau kita bertanggung jawab atas perbuatan sendiri, hal ini adalah tepat, adil dan sangatlah logis. Berbeda kalau kita menerima hasil dari perbuatan orang lain. Tidak ada kemungkinan kita berbuat apapun karena kita tidak memiliki kehendak bebas. Kalau hal tersebut terjadi kita hanya bisa pasrah saja terhadap apa yang akan terjadi nantinya. Tetapi kerjanya karma tidaklah seperti itu.

Dalam Samyutta Nikaya I : 293, disebutkan, “Sesuai dengan biji benih yang ditabur, demikian pula hasilnya. Pembuat kebajikan akan menerima kebaikan. Pembuat kejahatan akan menerima penderitaan. Tertaburlah biji oleh benih dan engkau pula yang akan merasakan akibatnya.
Dalam syair tersebut terurai sangat jelas sekali bahwa kalau kita melakukan kebaikan kita akan menerima kebaikan, sebaliknya kalau kita melakukan kejahatan kita akan mengalami penderitaan. Sebagai ilustrasinya, perbuatan baik akan memberikan kebaikan, seperti orang yang ingin mempersembahkan bunga yang begitu indah kepada orang yang sangat dicintainya. Sebelum bunga tersebut sampai ke tangan penerima. Dia sudah mengetahui bagaimana warna, bentuk dan harumnya bunga itu. Apakah warnanya Indah dan menarik, bentuknya cantik dan bau yang harum atau tidak. Mungkin kalau bunganya tidak harum kita akan menyeprotkan pengharum supaya wangi. Pada saat tersebut kita sudah merasa bahagia. Seperti kebaikan yang telah kita lakukan. Saat yang bersamaan tanpa kita perhatikan dan sadari, sebetulnya kita mulai merasa bahagia, senang dan gembira. Apalagi kalau berbuah maka kebahagiaan akan semakin meningkat.

Untuk ilustrasi kejahatan, seperti orang yang akan melemparkan kotoran kepada musuh yang begitu dia benci. Pada saat dia memunggut kotoran tersebut. Sebetulnya tangannya sendiri sudah menjadi kotor dan bau. Apakah lemparan kotoran tersebut mengenai orang lain atau tidak. Kenyataannya tangannya sendiri sudah menjadi kotor. Belum lagi kalau lemparannya mengenai orang lain malah akan memperkeruh dan memperpanjang persoalan yang ada. Begitu pun dengan perbuatan jahat yang dilakukan Saat yang bersamaan kita sendiri sudah merasakan akibatnya, yaitu kita mengalami kegelisahan, sedih, marah dan suasana hati yang tidak menentu. Ini baru efek sederhana. Bagaimana kalau hasil perbuatan berbuah tentunya akan jauh lebih sakit lagi.

Kita perlu memperhatikan, menyadari dan mengatur apa yang akan kita lakukan atau bagaimana cara kita mengisi kehidupan. Ini lebih berguna daripada kita hanya berkeluh kesah. Karena tindakan yang dilakukan dapat mempengaruhi perjalanan kehidupan kita lebih jauh. Selama kita masih dalam proses kelahiran kembali selama itu kita akan terus menjalani apa yang telah kita lakukan. Dalam Dhammapada Bab VIII : 110 disebutkan, “Daripada hidup selama seratus tahun yang penuh dengan pikiran jahat dan pikiran yang tidak terkendali, lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan perbuatan baik dan pikiran yang terkendali.”  Di sini menunjukkan nilai/ bobot perbuatan lebih penting daripada lamanya waktu kehidupan itu sendiri. Kalau nilai perbuatan positif dapat dipertahankan terus menerus, maka kehidupan akan menjadi semakin berharga dan bermakna.

Kita merasa menderita apabila buah hasil perbuatan adalah negatif. Namun kalau kita menyadari prosesnya, buah perbuatan adalah hasil dari perbuatan yang pernah kita lakukan. Kita akan mengerti dan tidak akan mau mengeluh atas kejadian apapun yang akan terjadi. Bahkan mungkin kita akan menyukuri bahwa pada saat seperti ini. Kita masih memiliki kesempatan melihat apa yang telah kita tanam dan kita masih dapat bertahan terhadap apa yang terjadi. Tidak semua orang dapat melakukan hal serupa, apalagi pada saat-saat dia mengalami peristiwa yang pahit. Banyak orang larut dalam kesedihan tanpa berupaya secepat mungkin bangkit dan berusaha semaksimalnya. Kalau kita hanya membiarkan agar perbuatan berlalu atau semakin larut pada keadaan demikian, kita hanya akan semakin merasa menderita. Seperti kisah yang dituturkan oleh seorang Bhikkhuni bernama Ko Fei Chen. Sebelum beliau menjadi seorang Bhikkhuni, dia adalah seorang dokter. Dia mengisahkan tentang kehidupan seorang pasien yang pernah menderita karena kanker Mulut. Pasien ini merasa sangat tidak bahagia. Setiap kali dia menelan ludah, cairan atau sesuatu menyentuh ke mulutnya, pasien ini akan merintih merasa begitu perih dan sakit sekali. Penderitaannya ini memang sangat berat untuk diungkapkan. Siapapun orang yang menderita seperti itu kemungkinan besar akan mengalami hal yang sama.

Meskipun demikian, ternyata pasien ini masih merasa beruntung karena dia dapat mengenal Buddha Dharma yang disampaikan langsung oleh Ko Fei Chen. Semula dia selalu menolak keadaan yang dihadapinya. Akhirnya dia dapat menerima apa yang terjadi. Mengapa ?” Karena pada saat dia mengingat kembali pola perilaku masa mudanya. Dia termasuk orang yang sangat suka memancing. Tidak semua orang memancing ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi ada orang yang melakukan karena hobby. Tetapi mereka tidak pernah menyadari bagaimana dengan ikan-ikan yang dipancingnya. Saat dipancing ikan pun akan mengalami sakit yang luar biasa. Dengan kondisi yang terluka dilepaskan kembali. Memang ini sangat memprihatinkan.

Dengan merenungkan bagaimana keadaan yang dialami oleh ikan yang pernah dia pancing. Dia pun dapat menerima keadaan sakit yang dirasakan sendiri saat itu karena penyakit kanker mulut. Pasien ini pun bertekad untuk tidak menggulangi maupun melakukannya lagi bahkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya akan dia hindari sama sekali.

Ini adalah bentuk refleksi atas perbuatan apa yang pernah dilakukan. Karma memberikan pengertian kepada kita apa efek perbuatan dan tindakan bijaksana apa yang perlu untuk kita kembangkan. Tidak hanya mengikuti perasaan emosi belaka tetapi memiliki pengertian dan kesadaran dalam berbuat baik. Apapun yang terjadi pada kita, kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas perbuatan itu sendiri.

II. SEPULUH PERBUATAN BAIK
Menurut jenisnya Karma terbagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu : karma baik dan karma buruk. Karma baik adalah karma yang dilakukan dan hasilnya membawa kebahagiaan sedangkan karma buruk adalah hasilnya memberikan penderitaan. Adapun saluran perbuatannya ada 3 (tiga) macam, yaitu lewat pikiran, ucapan dan tubuh jasmani. Jadi, pengertian perbuatan mencakup arti yang luas tidak hanya sebatas perbuatan tubuh jasmani saja, tetapi ucapan bahkan apa yang kita pikirkan sudah termasuk dalam karma. Bahkan Pikiran memiliki peran yang sangat penting. Dengan pikiran orang melakukan perbuatan lewat ucapan dan tubuh jasmani. Kalau kita uraiakan lebih lanjut, tiga macam saluran perbuatan tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu Sepuluh perbuatan baik dan sepuluh macam perbuatan jahat. Sepuluh perbuatan baik terdiri dari tidak melakukan pembunuhan, tidak mengambil barang milik orang lain, tidak melakukan perbuatan asusila, tidak berbohong, tidak mengucapkan kata-kata yang memecah belah, tidak mengucapkan kata-kata kasar, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat, tidak iri hati, tidak berkemauan jahat dan Pandangan Benar.

II.1. Tidak melakukan pembunuhan
Mereka menghindari pembunuhan, mereka menjauhi senjata dan permusuhan, mereka memiliki hati nurani, simpati, belas kasih, kepada semua makhluk, mengharapkan kesejahteraan mereka. Mereka tidak merugikan makhluk hidup bahkan dalam pikiran mereka, apalagi menganiaya secara fisik. (Avatamsaka Sutra)
Dalam tradisi Buddhis praktek tidak membunuh ada pula yang menjalankan dengan pola makan dari unsur sayur-sayuran saja (Vegetarian). Mereka tidak mengkonsumsi makanan dari unsur hewan.  Menurut pandangan mereka dengan memakan daging secara tidak langsung telah menyuruh orang lain untuk ikut membunuh. Perbuatan pembunuhan ini akan bertentangan dengan keinginan untuk mengembangkan cinta kasih. Bahkan disamping makanan dari makhluk hidup ada pula yang tidak mengkonsumsi 5 (lima) macam makanan pedas, yaitu Lokio, kucai, brambang, bawang putih dan bawang merah. Dalam kitab Surangama Sutra, makanan tersebut apabila orang mengkonsumsi secara mentah akan menimbulkan amarah. Tetapi kalau dimasak akan membangkitkan nafsu. Sehingga bagi seorang praktisi ini dapat mengganggu latihan penyempurnaan diri mereka. Untuk seorang Bhikkhu disebutkan ada 10 (sepuluh) jenis daging tidak boleh dikonsumsi, sebagaimana tercantum dalam Vinaya Pitaka, yaitu daging manusia, badak, harimau, gajah, ular, hyena, anjing, beruang, leopard dan singa. Apabila mereka mengkonsumsi akan menggganggu latihan pertapaan yang mereka jalani di hutan. Bahkan bau dari daging tersebut dapat memancing kebencian dari hewan sejenisnya. Buddha tidak melarang Bhikkhu untuk mengkonsumsi makanan dari hewan dengan syarat, yaitu tidak mendengar makanan yang disajikan adalah hewan, tidak berprasangka dan tidak melihat hewan tersebut dipotong.

Perbuatan pembunuhan dengan alasan apapun tetaplah pembunuhan. Apakah pembunuhan akan menimbulkan akibat ?” Tentu saja, besarnya tergantung dari niat dan kualitas makhluk yang dibunuh tersebut. Semakin tinggi kualitas makhluk maka akan semakin berat karma yang diterima nantinya. Bahkan kalau seseorang telah melakukan 5 (lima) jenis perbuatan berat, yaitu membunuh ibu, membunuh ayah, melukai seorang Buddha, membunuh arahat dan memecah belah sangha. Setelah kehidupan ini mereka akan terlahir di alam penderitaan, yaitu neraka Avici. Meskipun dalam kehidupan ini dia telah melakukan jasa besar. Dia akan tetap mengalami penderitaan. Seperti kisah dari Ajatthasatu, karena kebodohannya dia membunuh ayah kandungnya. Namun setelah itu dia terus melakukan kebajikan. Bahkan kebajikannya mensponsori Rapat Agung Sangha pertama tidaklah dapat menghindari dia dari akibat perbuatan pembunuhan. Karena perbuatan jahatnya begitu berat setelah meninggal dia terlahir di neraka avici. Kita mungkin akan bertanya bagaimana dengan kebaikan yang telah dilakukannya ?” Apakah hilang begitu saja ?” Tentu tidak. Kebaikan tetap kebaikan hanya potensi berbuahnya tertunda karena ada karma yang lebih besar dan bobotnya lebih berat. Jadi harus menunggu karma tersebut berbuah atau sampai habis terlebih dulu, kemudian baru muncul. Sehingga perbuatan apapun yang kita lakukan tidak akan sia-sia.

II.2. Tidak mengambil barang milik orang lain
Mereka menghindari mengambil apa yang tidak diberikan. Mereka puas dengan apa yang mereka miliki dan tidak menginginkan milik orang lain. Barang-barang milik yang lain adalah milik yang lain, mereka tidak membiarkan sedikitpun niat untuk mencuri dan bahkan tidak berkeinginan mengambil sehelai rumput atau daun yang tidak diberikan kepadanya, apalagi mengambil kebutuhan hidup orang lain. (Avatamsaka Sutra).

Mengambil barang milik orang lain yang tidak diberikan secara sah kepadanya termasuk perbuatan pencurian. Ada suatu kisah seorang pencuri yang berkehendak untuk mencuri barang-barang milik seorang bhikkhu Zen. Dia telah mengadakan pemantauan secara seksama semua kebiasaan dan aktivitas dari Bhikkhu yang menghuni Vihara itu. Hari yang ditunggu pun datang. Dia memasuki Vihara tersebut. Namun dia tidak menemukan satu pun benda berharga. Semua tempat dilihat tetapi hasilnya sama. Pada saat dia melirik jendela, ternyata Bhikkhu Zen telah kembali dari pelayanan umat. Di tangan Bhikkhu tersebut terlihat ada sehelai kain yang begitu berharga. Dalam diri pencuri itu timbul keinginan untuk mengambil kain tersebut. Maka pada saat Bhikkhu itu hendak masuk dia pun langsung mengertak bhikkhu untuk menyerahkan kain yang ada ditangannya. Bhikkhu ini menanggapi dengan sikap tenang yang luar biasa, sambil berkata, “Baik, saya akan menyerahkan kain ini padamu, namun engkau harus bersikap baik. Seperti saat saya menerima persembahan ini dari umat. Saya menerima dengan tangan dibuka. Begitu pun kamu harus berlaku demikian. Pencuri ini menyetujui. Saat tangannya dijulurkan hendak menerima kain tersebut. Dengan seketika Bhikkhu ini langsung mengikat kedua tangan pencuri tersebut begitu erat. Pencuri ini merasa begitu kesakitan. Dia memohon kepada Bhikkhu untuk melepaskan ikatan. Bhikkhu ini menyetujui tetapi karena waktunya puja/ melaksanakan ritual. Dia minta pencuri ini bersabar untuk menunggu sejenak. Bhikkhu ini pun menyalakan dupa berukuran besar. Pada saat Dia mengucapkan saya berlindung kepada Buddha. Dia langsung menghentakkan dupa ke tali pengikat pencuri tersebut. Seketika itu, pencuri ini merasakan kesakitan yang begitu luar biasa. Untuk kedua kalinya, bhikkhu mengucapkan, “Aku berlindung kepada Dharma. Kembali hal sama dialami pencuri tersebut. Dia merasakan sakit yang luar biasa dan seakan-akan mau pingsan. Untuk ketiga kalinya, bhikkhu mengucapkan, “Aku berlindung kepada Sangha. Kembali hal serupa terjadi. Pencuri ini antara sadar dan tidak sadar dia merasakan sakitnya tersebut sampai tidak bisa mengucapkan kata-kata. Apa yang diucapan Bhikkhu tersebut terus teringat di telinganya dan dia memohon untuk dilepaskan. Bhikkhu ini pun melepaskan tali pengikat. Pencuri ini lari terbirit-birit dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar. Saat dia mendekati jembatan pembatas sungai dia terjatuh ke bawah jembatan tepat di tepi sungai tersebut.

Dalam keadaan tidak sadar ucapan Bhikkhu tersebut terbayang dibenaknya. Dia pun mengingau, “Aku berlindung pada Buddha, Aku berlindung pada Dharma, Aku berlindung pada Sangha.” Pada malam itu ada makhluk halus mencoba untuk memutuskan tali jembatan. Namun berulang kali mereka mencoba, mereka selalu mengalami kegagalan. Padahal biasanya mereka dengan mudah melakukannya.. Setelah diselidiki ternyata ada orang di bawah. Mereka pun bermaksud untuk menyakiti pemuda ini. Namun pada saat pemuda ini mengucapkan Buddha, Dharma dan Sangha. Para makhluk halus ini terkejut merasa ketakutan dan tidak berani melanjutkan niatnya. Mereka pun meninggalkan tempat tersebut. Pagi harinya, pemuda ini bangun, dia teringat kembali peristiwa yang dialaminya dalam hatinya berkata untung semalam Buddha penuh welas kasih, sehingga bhikkhu tersebut hanya mengucapkan tiga kata. Kalau lebih saya bisa mati. Karena begitu penasaran dengan kejadian yang dialaminya ini. Dia menganggap Bhikkhu yang mengikatnya memiliki kehebatan yang luar biasa. Dia pun bermaksud untuk menemui bhikkhu itu sekali lagi meskipun ada kekhawatiran diikat kembali. Tetapi karena niatnya bulat dia pun menuju Vihara tersebut. Ternyata Bhikkhu Zen itu telah mengetahui bahwa pemuda ini siap untuk menjadi muridnya dan untuk menghentikan segala perbuatan jahatnya.

Kisah lain, berkenaan juga dengan seorang pencuri. Saat memasuki suatu tempat ternyata dia memasuki suatu Vihara. Dalam keadaan remang-remang ada satu pelita. Karena takut perbuatan jahatnya diketahui orang lain. Maka dia berkehendak untuk mematikan lampu yang ada didepannya. Dengan pisau yang ada disampingnya dia berusaha memadamkan pelita. Pada saat dia akan memadamkan pelita di depannya tersebutg. Pisaunya memantulkan kilauan cahaya pelita tersebut dan di depannya tampak rupang Buddha. Pemuda ini melihat keberadaan rupang Buddha yang begitu megah, luar biasa, penuh dengan keagungan. Tiba-tiba dalam dirinya bangkit rasa suka cita yang tinggi. Dia merasa bahagia sekali. Tetapi sesaat kemudian dia mulai menyesali mengapa dia mempunyai niat untuk mencuri pada tempat yang salah. Dia merasa sangat bersalah sekali. Semenjak itu pula dia bertekad untuk tidak mencuri lagi.

Memang tindakan mencuri adalah tidak baik. Tidak ada orang yang ingin barangnya diambil oleh yang lain dengan senang hati. Begitu pula kita tidak mau barang kita dicuri siapapun. Kalau kita tidak ingin mengalami hal tersebut sepatutnya kita pun tidak melakukannya. Terkadang kita melihat ternyata ada orang yang melakukan hal ini karena sudah gelap mata. Dia merasa tidak ada cara lain lagi untuk menghidupi keluarga. Dimana antara kebutuhan dan pemasukan tidak sebanding, kebutuhan hidup semakin meningkat sementara pendapatan biasa-biasa saja. Bahkan ada yang tidak bekerja lagi karena pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan. Sementara tanggungan hidup terus bertambah. Tetapi ada juga yang melakukan ini karena tabiat/ watak. Mereka melakukan untuk senang-senang bahkan dijadikan mata pencaharian yang salah. Keberadaan orang-orang seperti  memang sangat merugikan masyarakat dan menjadi sumber penderitaan bagi sekitarnya. Mengambil barang milik orang lain sepatutnya tidak dilakukan dengan alasan apapun dan harus dilatih dari diri sendiri. Kita melatih mulai dari hal-hal kecil tidak ada niat untuk mengambil barang yang tidak diberikan secara sah kepada kita. Atau tidak mengambil barang yang bukan merupakan hak kita. Sehingga terhadap barang-barang yang besar kita tidak akan timbul niat untuk memiliki secara tidak benar bahkan dalam pikiran sekali pun.

Janganlah kita meremehkan jenis perbuatan ini dengan membandingkan dengan orang lain. Bahkan kita hanya mengambil sedikit sementara yang lain mengambil lebih banyak. Mereka yang mengambil banyak saja tidak mengalami apa-apa. Memang betul kalau kita lihat hanya sesaat saja. Tetapi kalau saatnya berbuah kita akan mengalami begitu pahit dan menyakitkan. Ada orang meskipun mengambil sedikit tetapi mereka langsung tertangkap dan dipukuli massa. Sementara ada orang yang mengambil bukan miliknya begitu besar tetapi tetap bertahan. Kita tidak dapat menilai sepintas lalu saja. Karma tidak harus berbuah serupa tetapi dapat bentuk lainnya. Misalnya dia dikucilkan atau menjadi sumber pergunjingan yang mana terasa lebih berat.

II.3. Tidak melakukan perbuatan Asusila
Mereka menghindari senggama yang keliru. Mereka puas dengan pasangan hidup mereka sendiri dan tidak menginginkan pasangan hidup orang lain. Mereka tidak membiarkan niat untuk mendapatkan pasangan hidup yang lain, apalagi melakukan senggama dengan mereka. (Avatamsaka Sutra)

Apabila kita tinjau hukum negara satu dengan negara yang lain akan terdapat perbedaan dalam menyikapi masalah ini. Tentunya kita harus tunduk kepada hukum negara di tempat mana kita berada. Untuk masyarakat Timur melakukan hubungan intim layaknya suami isteri, merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan sangat dibenci oleh masyarakat. Kalau perbuatan tersebut diketahui akan memberikan dampak negatif. Mereka dapat dipukuli, diarak-arak agar perbuatan ini tidak terulang untuk lainnya. Kalau sudah demikian efeknya tentu tidak baik, nama baik akan jatuh dan dipermalukan di muka umum lagi. Apalagi kalau masih pelajar atau mahasiswa, sekolah atau kuliahnya dapat terbengkalalai. Bagaimana kalau terjadi kehamilan ?” Siapa yang mau bertanggung jawab ?” Apabila mereka tidak memiliki penghasilan sendiri?” Bagaimana kalau pihak laki-laki tidak mau bertanggung jawab ? Dia harus memikul beban sendirian. Tentunya ini begitu menyakitkan. Terkadang karena alasan cinta mereka pun melakukan hubungan layaknya suami isteri.  Takut pasangannya meninggalkan dia. Sebagai ungkapan cinta harus melakukan hubungan. Ini jelas bukan hal yang baik. Kalau pasangan yang setia dan baik, tentunya dia tidak mau melakukan hal seperti itu karena akan menyakiti yang lainnya. Justru kalau ada yang meminta seperti itu sebetulnya dia tidak menghargai pasangannya dan hanya memikirkan diri sendiri tidak berpikir secara jauh.

Dalam Dharma disebutkan melakukan hubungan seks salah yaitu dengan mereka yang telah berkeluarga, budak, rohaniwan, anak dibawah pengawasan orang tua, wanita yang telah bertunangan. Efek negatif perbuatan asusila lainnya banyak sekali penyakit aneh yang timbul berkenaan dengan perbuatan berganti-ganti pasangan, penyebarannya begitu cepat. Sebagai manusia kita memiliki norma dan etika, tentunya kita harus menyadari bahwa itu tidak patut dan tidak baik dilakukan oleh siapapun.

II.4. Tidak Berbohong
Mereka menghindari ucapan yang salah, selalu berbicara benar, sesuai dengan yang sebenarnya, yang cocok dengan waktu dan bertindak sesuai dengannya. Bahkan dalam mimpi mereka tidak berbicara keliru untuk maksud menipu dengan cara menutupi apa yang mereka lihat, percaya, harapkan, maksudkan, inginkan. Mereka tidak membicarakan kebohongan bahkan dalam mimpi apalagi dalam keadaan sadar.

Orang yang suka berbohong tidak akan dipercayai oleh orang lain. Kalau tidak dapat dipercaya bagaimana orang dapat menghargai dan menaruh perhatiannya padanya. Apalagi dalam dunia bisnis, orang yang suka berbohong mereka akan ditinggalkan oleh teman bisnisnya. Bahkan berbohong kita anggap hal kecil sebaiknya kita tetap tidak melakukannya. Seperti kisah seorang anak kecil yang tinggal di hutan. Timbul sikap jahilnya untuk mengerjai orang lain. Dia pun berteriak, “Tolong, ada Harimau !” Tetangga-tetangganya pun langsung keluar dengan membawa sejata untuk mengusik harimau yang dimaksud. Namun tidak ada sama sekali. Mereka hanya menemukan anak kecil yang tertawa terbahak-bahak. Tetangga-tetetangganya pun sangat kecewa sekali. Untuk kedua kalinya anak ini melakukan hal serupa. Tetangganya antara ragu dan tidak timbul dalam pikiran mereka. Tetapi karena hidup bertetangga, mereka tidak tega dan tetap membawa senjata seadanya. Kembali lagi anak ini ketewa sendirian sementara tetangga-tetanggannya mulai merasa sangat kesal sekali. Untuk ketiga kalinya anak ini melakukan hal yang sama lagi. Tetangga yang mendengar suara jeritannya tidak mau menghiraukan sama sekali. Pada saat tersebut memang ada harimau dan benar-benar menerkam anak tersebut. Atas kejadian ini dia menggali kerugian untuk dirinya sendiri.

Orang sangat menghargai orang yang jujur. Dalam setiap lapisan masyarakat kejujuran itu memang sangat diharapkan. Seperti perumah tangga mereka berharap pasangannya jujur, para pembisnis mereka berharap rekan bisnisnya jujur. Pemerintah berharap para pejabat dan rakyatnya jujur. Bahkan seorang pejahat pun dia berharap untuk bertemu dengan orang jujur. Jadi, setiap orang mengharapkan kejujuran. Kita tidak perlu merasa takut kalau kita jujur di dalam perbuatan sehari-hari.

II.5. Tidak bergosip
Mereka tidak bergosip, menceritakan kisah di sini dan di sana yang membuat perpecahan. Mereka tidak memecah belah di antara yang telah bersatu dan menambah kerenggangan di antara mereka yang  terpecah. Mereka tidak menikmati ketidak bersatuan dan tidak bergembira atas perpecahan. Mereka tidak mengucapkan kata-kata perpecahan baik itu benar atau tidak.

Ada orang yang hidup di atas penderitaan orang lain. Mereka sangat senang sekali terjadinya perpecahan antara satu sama lainnya. Dengan perpecahan mereka dapat memperoleh keuntungan. Mereka tidak senang kalau satu dengan yang lainnya dapat hidup rukun dan damai. Ini sifat yang begitu jahat dan kejam. Demi kedudukan, jabatan dan kekayaan diri sendiri mereka tega melukai atau menghancurkan kehidupan orang lain baik sendirian maupun dalam cakupan yang luas. Apalagi dalam masyarakat kita yang majemuk. Ucapan yang salah dapat menimbulkan perpecahan yang membawa kerugian pada masyarakat luas. Bukan satu atau dua orang saja, tetapi dapat melebar tanpa batas.

Kita tidak perlu terpancing pada gosip yang ada dan menyebarkan kabar yang tidak pasti. Apalagi tidak memberikan faedah sama sekali malahan dapat menimbulkan pertentangan dan permusuhan dengan orang lain.    Kalau kita membicarakan orang lain kita seakan-akan tidak pernah salah. Tetapi kalau kita dibicarakan orang lain kita tidak senang dan mau marah. Kalau demikian halnya sepatutnya kita pun tidak membicarakan orang lain. Bahkan dalam Kalama Sutta, Buddha bersabda,  “Janganlah percaya begitu saja karena berita yang disampaikan kepadamu, janganlah percaya begitu saja karena desas desus.” Hal ini Buddha sampaikan karena masyarakat setempat sempat merasa binggung karena berita yang diterima satu orang dengan orang lainnya berbeda. Pada saat itu pertapa satu dengan yang lain saling ingin menonjolkan diri dan merendahkan yang lain. Buddha dengan bijaksana menasehati mereka. Apabila perbuatan tersebut baik, dipuji oleh para bijaksana sepatutnya dilaksanakan. Tetapi kalau perbuatannya buruk dan dicela oleh para bijaksana sepatutnya dihindari.

II.6. Tidak mengucapkan kata-kata kasar
Mereka meninggalkan pembicaraan yang tidak pada tempatnya, keras, kotor, menusuk yang lain, secara terbuka atau tertutup menjengkelkan yang lain, tidak sopan, jorok atau mesum, tak menyenangkan untuk didengar, provokatif, mengesalkan, menyakitkan hati, menyebalkan, menimbulkan tentangan dan tak menyenangkan, merusak bagi diri sendiri dan orang lain.

Mereka mengucapkan kata-kata yang lembut dan tidak melukai, dapat diterima, manis, membuat nikmat, menyenangkan, bermanfaat, suci, menyenangkan bagi telinga, cocok, disukai, elok dan jelas, mudah dipahami, berharga untuk didengar, tak bercampur aduk, disukai banyak orang, dapat diterima banyak orang, mencerahkan, bermanfaat dan menyenangkan bagi semua makhluk, meringankan batin, menyucikan diri sendiri dan orang lain.

Orang yang sering mengucapkan kata-kata kasar menunjukkan bahwa orang tersebut tidak punya kepandaian lebih atau tidak ada jalan pemecahan atas masalah yang dihadapi. Untuk menunjukkan dirinya hebat maka dia melakukan hal seperti itu. Sebetulnya apa yang dia lakukan justru semakin menunjukkan bahwa dia tidak memiliki kemampuan sama sekali. Sebagai contoh seorang atasan marah kepada bawahannya. “Kamu ini sangat bodoh sekali !” Mengapa selalu melakukan kesalahan ?” Ini sangat sederhana. Kalau kita sudah tahu bahwa orang tersebut bodoh, kita masih mempercayakan pekerjaan yang bukan kemampuannya sebetulnya siapa yang salah ?” Justru karena dia bodoh maka dia menjadi bawahan, tetapi kalau dia pandai mungkin dia menjadi atasan. Atasan yang baik sepatutnya dia memberikan jalan pemecahan atas masalah yang terjadi bukan hanya sekedar mencaci maki atau marah saja. Kadang kala kita menjumpai orang-orang yang mengucapkan kata-kata kasar tidak dalam suasana emosi, tetapi merupakan kebiasaan. Sedikit-sedikit terlontar kata-kata kasar. Seakan-akan tidak ada koleksi kata-kata baik lainnya. Ini memang sangat memprihatinkan. Kalau kebiasaan ini terus dibiarkan maka kita sendiri yang rugi. Karena tanpa kita sadari apa yang kita ucapkan kita akan menganggap sebagai hal yang umum tetapi bagi orang lain ini tidak umum bahkan dianggap menghina dan dapat merusak pergaulan maupun hubungan bisnis.

Begitu pula dengan penyampaian aspirasi untuk membela kebenaran dan keadilan. Janganlah kita nodai dengan apresiasi yang negatif. Orang menuntut keadilan dan kebenaran tetapi penyampaiannya seringkali mengucapkan kata-kata kasar dan menghujat.  Bahkan terkadang bertindak anarkis Sepatutnya aspirasi baik disertai pelaksanaan yang baik pula. Sehingga siapa pun yang mendengar dan melihat dapat memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan menarik simpati bagi siapapun. Bukan sebaliknya masyarakat yang lewat menjadi kesal dan marah atas perbuatan mereka. Ini bukan pemecahan yang baik. Semua orang tidak mau mendengar kata-kata kasar. Mereka menginginkan kata-kata yang baik untuk didengar. Meskipun maksudnya sama. Jadi, dalam penyampaian aspirasi banyak cara yang dapat ditempuh tidak harus dengan kata-kata kasar. Kalau kita telah mengetahui sesuatu yang diucapkan termasuk Kata-kata kasar, kita harus melatih untuk tidak mengulanginya lagi. Kalau orang mau mencari musuh itu sangat mudah sekali. Pada saat berpapasan dengan orang lain kita pukuli orang, kita langsung menjadi musuh. Tetapi kalau mencari teman sulitnya luar biasa belum tentu kita dapat menemukan teman yang baik setiap saat, apalagi teman yang sejati terkadang jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

II.7. Pembicaraan yang bermanfaat
Mereka berbicara secara bijaksana, cocok waktunya, benar, bermakna, pantas, masuk akal, mengandung pelajaran. Mereka mengucapkan kata-kata berisi, dengan hati-hati mempertimbangkan dan menjaga pembicaraan, cocok dengan keadaan, beraturan, direnungkan dahulu bahkan untuk kelakar dan tidak pernah omong kosong sekenanya.

Apabila kita pelajari lebih lanjut mengenai sejarah kehidupan Buddha Gotama. Kita dapat melihat betapa luar biasa cinta kasih dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Pada pagi hari setelah bangkit dari meditasinya. Beliau akan melihat siapa yang memiliki batin yang siap untuk menerima Dharma yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya. Sehingga Dharma yang dibabarkan beliau tersebut memberikan cahaya penerangan bagi penerima. Begitu pula apabila beliau menghadapi para pertapa maupun Brahmana, Beliau akan memberikan kata-kata yang bermanfaat bagi perkembangan batin pendengarnya. Seperti kisah yang termuat dalam Kalama Sutta, penduduk suku Kalama mengalami kebinggungan mengapa setiap pertapa yang datang selalu memberikan ajaran yang satu sama lain tidak sama dan selalu menonjolkan ajarannya semata. Buddha dengan bijaksana menghilangkan keraguan pandangan dan keyakinan Suku Kalama tersebut, sehingga mereka tidak berada dalam kebimbangan tetapi ada pedoman untuk dijadikan acuan.

Bahkan penekanan ajaran Buddha pada perbaikan diri atau character Building. Ajaran yang disampaikan untuk  diterapkan dalam kehidupan ini. Bukan sebagai wacana saja. Sehingga para pengikut Buddha tidak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak membawa pada kemajuan batin. Begitu pun dengan kata-kata spekulatif yang tidak ada pemecahan dan tidak mengandung kemajuan batin. Seperti kisah seorang yang terpanah oleh panah beracun. Orang itu tidak mau dicabut dan diobati oelh siapapun sebelum dia mengetahui siapa yang memanahnya, jenis panah yang dipakai, bahannya apa, dari suku apa atau segala hal. Sebelum dia dapat mengetahui semua apa yang dia harapkan. Orang ini telah meninggal terlebih dulu oleh racun yang ada dalam panah tersebut. Buddha menguraikan hal tersebut agar dalam hidup ini kita dapat memanfaatkan hidup ini dengan baik dan bijaksana dan kata-kata yang disampaikan akan memberikan manfaat bagi siapapun yang mendengarnya. Bukan malah menimbulkan emosi dan pepecahan.

II.8. Tidak tamak
Tidak mempunyai tamak atas harta, kesenangan, kenikmatan, barang-barang dan milik orang lain. Apalagi berkeinginan untuk memiliki apa yang menjadi hak orang lain. Mereka tidak mencari atau berharap atau menginginkan keuntungan

Jarang sekali kita temukan orang dapat mengembangkan rasa bahagia atas kesuksesan orang lain. Umumnya mereka merasa iri. Mengapa orang lain diperhatikan atau diperlakukan dengan baik, sementara dirinya tidak ?” Mengapa orang lain sukses sementara dirinya biasa-biasa saja ?” mengapa orang lain begitu pandai sementara dirinya bodoh?” Kalau kita benar-benar telah mengerti hukum karma pemikiran seperti itu tidak perlu terjadi. Kalau kita melihat ada orang lain yang lebih pandai, lebih kaya atau lebih segalanya. Justru kita harus cepat-cepat melakukan intropeksi. Mengapa ?” Berarti dalam diri kita masih banyak kekurangan dan harus kita perbaiki. Kalau orang lain dapat memperoleh apa yang diharapkan atau kejayaan. Berarti mereka memiliki potensi yang lebih baik. Kita harus bersyukur ternyata ada juga orang yang baik. Bukan sebaliknya menyalahkan sana dan sini atau mencari pembenar. Marah-marah sendiri. Supaya orang melihat kita seram dan menakutkan. Hal ini justru tidak baik. Malah merugikan kita lebih jauh.


Kadang kala rasa iri itu timbul adanya prasangka yang tidak baik. Jangan-jangan dia sukses karena dia memakai makhluk halus. Apalagi kalau orang tersebut pemahaman terhadap kebenaran tipis sekali dia betul-betul pergi ke Paranormal menayakan permasalahan yang dihadapi. Sementara paranormal yang tidak benar memberikan komentar menyesatkan bahwa ada orang yang tidak senang kepada kamu. Untuk mencegahnya kamu harus melakukan tindakan yang merugikan tetangganya. Tetangga yang tidak tahu apa-apa akhirnya menjadi musuh karena kebodohannya. Satu masalah belum terpecahkan menambah masalah yang baru.

Sifat tamak yang berkembang adalah tidak menghargai orang lain dan pikirannya orang lain tidak ada yang betul selain dirinya sendiri dan selalu menjelekkan yang lain. Cirinya sangat sederhana yaitu orang yang tidak dapat memberikan penghargaan prestasi yang diraih oleh orang lain. Meskipun prestasi itu luar biasa. Dengan polos dia pun berkata, saya pun dapat melakukannya. Hanya seperti itu saja, apa yang istimewa. Kenyataannya orang yang telah berprestasi telah mencurahkan segala kemampuan yang dimiliki.
 
II.9. Kamauan Baik
Mereka bebas dari kejahatan dan kemarahan. Mereka mencintai semua makhluk, mengharapkan mereka sejahtera, bersimpatik, melindungi semua, memperhatikan apa yang baik untuk mereka. Meninggalkan semua yang menimbulkan cela, amarah, kebencian, ketamakan, perlawanan dan penyerangan yang dibakar oleh kemauan jahat dan permusuhan
Mereka merenungkan apa yang bermanfaat dengan mempertimbangkan apa yang diperlukan dalam memberikan kasih sayang untuk kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk.

Memang sangat langka kita dapat menemukan orang-orang yang memiliki hati yang begitu baik. Selalu mengharapkan kesejahteraan bagi yang lain. Seperti figure seorang Boddhisattva yang memiliki tekad untuk menolong makhluk-makhluk yang mengalami penderitaan. Dengan Ikralnya mereka siap setiap saat untuk membantu makhluk yang mengalami kesusahan. Seperti Bodhisattva Avalokitesvara (Kwan Im) beliau bertekad, barangsiapa yang mengucapkan namaku, dan memohon bantuan, maka saya setiap saat akan datang membantu dalam wujud apapun. Kalau Bodhisattva Ksitigarbha, Beliau malah berikral selama neraka belum kosong saya tidak akan mencapai kesempurnaan. Berbeda lagi dengan Bhaisajaguru beliau berikral kalau beliau telah mencapai tingkat kebuddhaan salah satu ikralnya berbunyi, barangsiapa mengucapkan nama Bhaisajaguru dengan pikiran terpusat, bagi mereka yang sakit, tidak ada tenaga medis maupun obat-obatan, maka beliau akan membantu.

Ini memang luar biasa. Dengan berbagai tipe dan karakter orang, mereka tidak menjadi patah semangat.  Sebagai manusia biasa, kalau kita menghadapi orang yang begitu menjengkelkan kita akan mudah sekali timbul kesal dan kecewa. Bahkan terkadang timbul pikiran jahat untuk menyakiti. Tetapi seorang Boddhisatva dengan keseimbangan batinnya, mereka telah terlepas dari keadaan seperti itu. Mereka memandang makhluk apapun karena kebodohan batin tidak mengerti kebenaran. Kalau dibiarkan mereka akan semakin menderita. Motivasi ini timbul karena mereka sendiri telah merasakan, keberadaannya tidak terlepas dari makhluk lain. Sehingga tidaklah bijaksana kalau mereka membiarkan makhluk-makhluk lain menderita sendiri. Oleh karena itu mereka akan selalu siap membantu dalam situasi dan keadaan apapun juga.

II.10. Pandangan benar
Mereka meninggalkan peramalan dan berbagai pandangan keliru, melihat dengan benar, tidak melakukan penipuan dan mengarahkan batinnya kepada Buddha, Dharma dan Sangha
Dalam Majjihma Nikaya disebutkan orang yang mengetahui perbuatan tidak baik, akar dari perbuatan tersebut, perbuatan baik dan akar dari perbuatan baik. Merupakan orang yang berpandangan benar, berpandangan luas, memiliki keyakinan sempurna di dalam Dharma dan telah tiba pada Dharma sejati. Akar dari kejahatan tersebut adalah kebencian, keserakahan dan kebodohan.

Suatu ulasan yang begitu berharga adalah kisah dari Liao Fan. Beliau mampu mengubah ramalan yang disampaikan oleh seorang peramal yang hebat, yaitu Tuan Kong. Dia mampu meramalkan kehidupan keluarga Liao Fan dan potensi dan kariernya sangat detail sekali. Apa yang diramalkan tersebut pada awalnya semuanya tidak ada yang meleset satu pun. Satu persatu yang dijalani Liao fan ternyata seperti gambaran Tuan Kong. Melihat realita tersebut semula Liao fan sangat senang sekali karena kariernya begitu baik. Namun pada ramalan berikutnya dikatakan diharus menjalani kehidupan dengan karier terbatas pada posisi tertentu, usia yang pendek tanpa mempunyai keturunan. Dia pun mulai kecewa dan putus asa. Di tengah keputusasaan dia bertemu dengan Guru Zen yang begitu luar biasa, membuka pandangan yang tidak dimilikinya sebelumnya. Dia pun melakukan serangkaian tindakan baik yang ketat dan teratur. Akibatnya satu persatu ramalan yang diberikan oleh Tuan Kong pun meleset.

Hal ini kita bisa melihat bahwa kita tidak boleh hanya berpasrah diri terhadap keadaan semata. Kita harus terus berusaha di dalam kehidupan. Apabila dimungkinkan bertekad untuk menyempurnakan kebajikan meskipun dalam hitungan angka. Tetapi ini jelas tindakan positif. Karena dalam pandangan Buddhis, kalau suatu perbuatan dilakukan dengan niat yang kuat maka perbuatan ini akan memiliki potensi yang tidak dapat dihentikan.

III.    SEPULUH PERBUATAN TIDAK BAIK
Sepuluh macam perbuatan tidak baik, terdiri dari pembunuhan/ menghancurkan kehidupan, mencuri, perbuatan asusila, ucapan tidak benar, ucapan memecah belah, bicara Kasar, mengobrol yang tidak penting, tamak, niat jahat dan pandangan salah

III.1. Pembunuhan, menghancurkan kehidupan makhluk lain dan penganiyayaan
Dia kejam dan tangannya bernoda darah, dia cenderung melakukan pembantaian dan pembunuhan, karena tidak memiliki cinta kasih terhadap makhluk hidup.

Orang yang suka melakukan pembunuhan dan penganiayaan sebetulnya kehidupannya tidaklah tenang dan nyaman. Mereka akan selalu dibayang-bayangi oleh perbuatan jahatnya tersebut. Sangatlah berbahaya kalau perbuatan buruk dibiarkan saja malahan akan menjadi kebiasaan. Buddha bersabda, “Orang yang melakukan kesalahan karena tidak mengerti lebih bahaya dari pada orang yang melakukan kesalahan karena mengerti. Orang yang tahu dia melakukan kesalahan di kemudian hari dia dapat memperbaiki. Sementara orang yang melakukan kesalahan karena tidak mengerti maka sepanjang hidup dia terus melakukan dan dianggap hal yang wajar. Kalau kita lihat kisah dalam Dhammapada ada dua orang yang saling membenci. Pada setiap kehidupan mereka selalu membunuh satu sama lain. Ini jelas merupakan penderitaan yang panjang. Beruntung mereka bertemu dengan Buddha.  Di sana Buddha menjelaskan mengapa mereka sampai memiliki kebencian terus menerus dan berusaha untuk saling membunuh untuk melampiaskan dendam mereka tersebut.
 
Seperti halnya dengan suatu pasangan hidup yang tidak wajar. Hidup mereka terus terjadi pertengkaran. Setiap hari isterinya selalu dianiaya oleh suaminya baik dipukul, dirotan maupun dengan sapu lidi. Setiap kali isterinya menjerit kesakitan, suaminya baru mau menghentikann dan merasa puas. Kejadian ini berlangsung cukup lama. Suatu hari saat isterinya putus asa. Dalam batinnya dia bertanya, mengapa dia harus mengalami penderitaan seberat itu. Dalam benaknya sempat timbul pikiran untuk mengakhiri diri sendiri. Beruntung pada hari itu dia bertemu dengan seorang bhikkhu yang memiliki kepandaian luar biasa. Bhikkhu ini pun menjelaskan mengapa dia mengalami kejadian seperti itu karena karmanya sendiri.

Pada kehidupan sebelumnya dia adalah seorang petani setiap pulang dari sawah dia mengendarai kerbau kesayangannya. Setiap menaikki kerbau tersebut dia selalu mencambukki agar kerbau dapat berjalan sesuai apa yang dia harapkan. Setelah meninggal kerbau tersebut terlahir sebagai suaminya saat itu. Dengan kebencian yang dimiliki dan tertanam di bawah sadar, makanya suaminya tersebut terus melakukan perbuatan penganiyaan.    Lalu, bagaimana cara menghentikan kejadian itu ?” Bhikkhu itu pun menjelaskan bahwa dia tidak boleh lari dari permasalahan ini tetapi harus menerima dan menghadapi dengan cinta kasih. Biasanya saat suaminya pulang dia selalu menyembunyikan rotan, sapu lidi atau sejenisnya. Pada saat suaminya pulang dia malah menyediakan sapu lidi. Memang benar suaminya tetap memukulinya tetapi suaminya merasa heran mengapa kali ini isterinya sama sekali tidak menangis dan menolak semua pukulannya malah menerima. Isterinya pun menjelaskan dengan rinci. Semenjak saat itu tidak ada lagi pemukulan yang dilakukan oleh suaminya dan pasangan itu hidup harmonis.

Makanya kita dapat melihat betapa luar biasa cinta kasih. Karena kebencian tidak akan berakhir kalau dibalas dengan kebencian. Kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih. Dalam hidup ini janganlah kita jadikan jari telunjuk kita sebagai sebagai pencabut nyawa. Sekali tunjuk maka makhluk yang dipilih langsung harus berpisah atau meninggalkan kehidupan ini. Baik karena kita tidak suka dengan orang lain. Maupun karena kita menghendaki makanan tertentu. Akibat perbuatannya maka harus ada makhluk yang berpisah dari kehidupan ini.

III.2. Mencuri
Didorong niat untuk mencuri, mengambil barang milik orang lain, baik di desa maupun di hutan.

Ada orang yang mengumpulkan harta kekayaan dengan cara mencuri, merampok atau memeras kakayaan orang lain. Bahkan dalam aksinya selain harta yang diambil mereka pun terkadang melukai fisik pemilik atau orang yang ada disekitarnya bahkan ada pula sampai mengambil nyawa lainnya. Orang seperti itu telah melakukan dua macam perbuatan jahat, pertama mengambil barang yang tidak diberikan secara sah dan kedua melukai atau mengambil nyawa orang lain. Ini sangat memprihatinkan.

Dalam Cakhavatti Sihananda Sutta, disebutkan karena kemiskinan orang melakukan pencurian. Mereka lakukan karena tidak diperhatikan kesejahteraannya. Dengan menurunnya moral menyebabkan menurunnya usia manusia. Tetapi yang sangat aneh adalah orang yang telah memiliki kekayaan cukup masih melakukan pencurian. Bahkan nilainya pun sangat besar sekali. Kenyataan dalam hidup ini, berapa besar harta yang kita kumpulkan semuanya akan kita tinggalkan. Kalau demikian adanya mengapa kita harus mengumpulkan harta dengan cara yang salah. Antara lain dari mencuri, sementara kalau kita masih dapat dengan usaha yang benar.
    
III.3. Perbuatan Asusila
Dia berhubungan seks dibawah perlindungan orang tua, saudara laki-laki, saudara perempuan, sanak saudara, suku, atau komunitas keagamaan, atau dengan mereka yang dijanjikan akan dinikahkan, yang dilindungi hukum dan bahkan dengan mereka yang bertunangan dengan kalungan bunga dilehernya.

Saat ini perbuatan asusila tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Bahkan kalangan remaja dan anak-anak pun sudah terjadi. Baik karena suka sama suka atau karena ada paksaan dari pihak lain. Pada suatu ketika Buddha menghadiri pemakaman seorang wanita tuna susila yang sangat cantik semasa hidupnya. Dia bernama Sirima. Ketika dia masih hidup banyak sekali orang yang berani membayar 1000 tail untuk menghabiskan satu malam bersamanya.    Pada saat pemakaman, Buddha menanyakan kepada mereka, apakah ada orang yang menginginkan tubuh wanita ini dengan harga 1000 tail ?” Tidak ada orang yang mau. Sampai Buddha menawarkan tidak perlu untuk dibayar. Tetap saja tidak ada yang mau. Padahal kalau dulunya mereka berani banyar berapapun.

Kecantikan maupun ketampanan adalah setebal kulit yang membungkus tubuh kita ini. Apa yang dapat kita banggakan dan mengapa sampai terikat oleh nafsu indera ?” Praktek serupa untuk mencegah hal ini adalah dengan merenungkan tentang keadaan yang tidak kekal dan obyek dari mayat. Mengenai hal ini, Buddha bersabda, “Lihatlah tubuh yang indah ini, banyak orang yang menganggap sangat berharga dan dirawat dengan baik. Tetapi tubuh ini tidak kekal, penuh luka, ditopang oleh tulang-tulang dan mudah sekali diserang penyakit.” Sehingga mereka dapat merasa jenuh dan jijik terhadap tubuh jasmani sehingga tidak akan timbul niat untuk membiarkan nafsu tanpa terkendali.

Buddha Yang Maha Suci dan Sempurna pernah suatu ketika dituduh telah melakukan perbuatan asusila dan menyebabkan kehamilan pada seorang perempuan bernama Cincamanavika. Saat itu Buddha sedang memberika wejangan Dharma, perempuan tersebut masuk ke tempat Dharmasala, menuduh Buddha dan meminta pertanggungjawaban telah berbuat asusila. Tetapi karena tipu muslihat, para makhluk pelindung Dharma yang melihat kejadian tersebut, mengetahui bahwa Cinca bermaksud mempermalukan Buddha dengan mengikat sepotong kayu di perutnya agar tertampak wanita yang hamil. Maka Raja Sakka, raja para dewa mengutus empat orang dewanya dengan mengubah wujud sebagai tikus. Mereka memutus tali pengikatnya. Saat itu, kayu yang ada di perutnya langsung jatuh dan terbongkar pula niat jahatnya. Perbuatan Cincamanavika ini atas perintah dari Gurunya, para para pertapa yang meresa kedudukannya terancam karena kebesaran nama Buddha. Buddha mengalami hal ini pun sebetulnya tidak terlepas dari kehidupan lampau saat sebagai manusia biasa, dia menjadi seorang raja. Suatu ketika dia melihat ada seorang pertapa dikerumuni oleh para dayang-dayang. Timbul dalam pikirannya bahwa pertapa ini bukanlah pertapa terhormat tetapi pertapa yang tidak baik dan telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji dengan dayang-dayang tersebut. Akibat perbuatan ini Buddha mengalami hal serupa. Beliau difitnah oleh yang lain.

III.4. Ucapan tidak benar
Ada orang yang menjadi pembohong ketika dia berada di antara komunitasnya atau kelompoknya lain, di antara sanak saudara, teman sekerjanya, di pengadilan negara, ketika dipanggil sebagai saksi dan diminta mengatakan apa yang diketahuinya

Kemudian meskipun dia tahu, melihat, mendengar, dia akan berkata, “Saya tidak tahu, saya tidak melihat dan saya tidak mendengar.” Dengan cara ini dia mengucapkan kebohongan yang disengaja, baik demi dirinya sendiri, demi orang lain atau demi keuntungan materi.

Ada suatu kisah Guru Zen yang begitu terkenal tetapi dia memiliki seorang murid yang sifat yang buruk, menyebalkan dan selalu menjelek-jelekkan dan mengucapkan kata-kata tidak benar mengenai gurunya dihadapan orang lain. Orang-orang yang sangat menghormati Gurunya, melihat perilaku buruk murid tersebut merasa jengkel sekali dan menyampaikan kepada Gurunya untuk segera mengganti murid tersebut. Namun apa kata Gurunya, “Saya tidak marah dan merasa tidak terbebani karena murid ini selalu mengajarkan saya kesabaran.” Ini menunjukkan cara pandang dari sudut yang berbeda.  Hal ini jarang sekali dimiliki orang-orang. Pada umumnya kalau kita menerima hal yang tidak benar, tidak baik dan merasa direndahkan kita langsung marah. Tetapi dapatkah kita bersikap seperti Guru Zen tersohor tersebut ?” Karena setiap kejadian memiliki sisi lain pula. Seperti kisah Subbuti yang mencari guru untuk membimbing batinnya. Dalam perjalanan hidupnya dia menemukan guru yang begitu banyaknya. Guru-guru tersebut selalu menemaninya dalam pencapaian tujuan. Tentu kita menyebutkan Beliau memiliki berkah yang luar biasa. Namun kalau kita cermati Guru Subbuti tersebut bukanlah Buddha, para arahat atau para Boddhisattva yang selalu menemaninya. Baik itu orang bermoral maupun orang jahat. Semua dia terima sebagai guru yang luar biasa. Mereka ada di sekitar kita tidak perlu mencari jauh-jauh.

III.5. Ucapan memecah belah
Apa yang didengar disini diucapkan ke tempat lain untuk menimbulkan konflik di sana, dan apa yang didengar di sana diceritakan di sini untuk menimbulkan konflik.
Dengan demikian dia menciptakan perselisihan diantara mereka yang bersatu dan dia masih menghasut lagi mereka yang sedang berselisih.

Dia menyukai perselisihan, dia bergembira dan bersuka cita di dalamnya dan dia mengucapkan kata-kata yang menyebabkan perselisihan.

III.6. Ucapan kasar
Menggunakan ucapan yang keras, kasar, pahit dan sewenang-wenang yang membuat orang lain marah dan menyebabkan kebinggungan pikiran mereka. Demikianlah ucapan yang dikeluarkannya.
    
III.7. Omong kosong
Membicarakan apa yang tidak pada waktunya, yang tidak beralasan  dan tidak bermanfaat, yang tidak ada hubungannya dengan Dharma atau Vinaya. Pembicaraan tidak berharga untuk disimpan, tidak menguntungkan, tidak dianjurkan, tidak terkendali dan mencelakakan.
    
III.8. Tamak
Dia menginginkan kekayaan dan harta benda orang lain. Dia berpikir, “O, apa yang dimilikinya seharusnya kumiliki.”

Di kisahkan ada dua jenis hewan berteman, yaitu seekor burung dara yang makan biji-bijian saja dan seekor burung gagak yang makan segala makanan. Burung gagak selalu mengamati tempat sarang burung dara yang dekat dengan dapur. Di sana ia melihat banyak makanan. Suatu hari ia pura-pura sakit dan meminta burung dara bersedia meminjamkan tempatnya beristirahat sampai burung dara kembali. Burung dara setuju namun ia berpesan agar jangan mengambil makanan bukan miliknya. Setelah burung dara terbang, ia pun melakukan aksinya masuk ke dapur dan hendak mencuri makanan di sana. Namun sayangnya aksi tersebut diketahui koki dapur. Gagak ini pun ditangkap dan disiksa. Saat burung dara kembali ia sangat kecewa melihat temannya dalam kondisi sekarat karena tidak mau mendengarkan kata-katanya. Ia  tidak dapat melakukan apa-apa lagi untuknya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan sarangnya di sana karena kekhawatiran mendapat masalah yang sama.

Orang yang tamak memang akan mendapat masalah karena sifat tamaknya sendiri. Contoh dalam dunia usaha, ada orang yang kehidupannya sudah berjalan baik dia dipercaya oleh banyak rekan bisnisnya. Namun suatu ketika timbul ingin mendapatkan harta yang lebih besar. Uang yang seharusnya membayar tagihan yang telah jatuh tempo semua dialihkan dan diinvestasikan pada bisnis tidak sesuai aturan hukum/ illegal. seharusnya tidak boleh dilakukan dan harus diperhitungkan secara panjang. Namun dia memaksakan dirinya. Dia pun ditipu dalam jumlah uang yang besar dan orang yang menipu tersebut melarikan diri tanpa jejak. Akibatnya semua uangnya habisdan dia tidak dapat membayar tagihan yang telah jatuh tempo, dia pun tidak dipercaya lagi oleh teman bisnisnya.  Sementara itu karena dia dianggap terlibat dalam barang tidak sesuai aturan hukum. Dia harus berhadapan dengan petugas yang berwajib. Masalah satu belum selesai tambah masalah lainnya.

Janganlah kita silau dengan kebahagiaan sesaat saja. Kelihatannya menarik tetapi sangat berbahaya. Seperti orang-orang yang terlibat sebagai pengedar obat-obatan terlarang berharap dapat keuntungan besar. Tetapi dia tidak pernah mau menyadari efek yang ditimbulkan dapat merugikan banyak orang dan dirinya. Dia hanya memikirkan kebahagiaan sesaat saja. Akibatnya saat dia berhadapan dengan petugas yang berwajib dia mulai sadar, mengakui dan menyesali perbuatan tersebut tidak baik.
     
III.9. Niat jahat
Dia memiliki pikiran yang keji. Seperti : Biarlah makhluk-makhluk ini dibantai !” Biarlah mereka dibunuh dan dihancurkan !” Semoga mereka musnah dan tidak ada lagi !”

Perbuatan ini timbul karena kita tidak mampu untuk mengerti hakekat kehidupan. Bahwa dalam perjalanan ini ada suka dan Dukkha, ada orang yang baik dan ada orang yang tidak baik, ada orang jujur dan ada orang tidak jujur. Kita hanya memegang erat apa yang baik saja tetapi menolak keadaan sebaliknya. Akibatnya pada saat kita mengalami kejadiaan yang tidak kita harapkan kita menjadi kesal, kecewa dan marah sekali. Pikiran baik pun tidak bekerja dengan baik. Kita mulai marah dan mengharapkan orang membuat kesal mengalami ketidakberuntungan dan kehancuran. Padahal dalam konsep kehidupan lebih jauh. Kita memiliki hubungan yang tidak jauh dengan orang-orang yang di sekitar kita. Karena kelahiran yang berulang-ulang, sudah sedemikian banyak tanpa kita sadari mereka tersebut bisa menjadi salah satu orang yang amat berjasa dalam kehidupan kita sebelumnya. Kalau seperti itu apakah pantas kita memiliki niat yang jahat terhadap mereka !”

III.10. Pandangan Salah
Memiliki pandangan yang salah dan pemikiran yang menyimpang, seperti : “Tidak ada nilai moral dari pemberian, persembahan atau pengorbanan. Tidak ada buah dari perbuatan baik atau jahat. Tidak ada dunia ini dan dunia lain. Tidak ada penghormatan kepada orang tua. Tidak ada pertapa yang memiliki prilaku hidup yang benar yang dapat menjelaskan dunia ini dan dunia selanjutnya, setelah merealisasikannya melalui pengertahuan langsung mereka.

Sering kali kita menjumpai orang-orang yang menghadapi masalah hidup. Seperti membuka suatu usaha terus-menerus mengalami kerugian. Dengan pandangan terbatas mengenai konsep karma. Dia menyatakan lebih baik saya pindah keyakinan daripada beragama Buddha, karena harus menghadapi karmanya. Ini jelas suatu pandangan yang keliru, karena karma adalah hukum kebenaran yang berlaku bagi siapapun juga. Tanpa mengenal ruang, waktu dan tempat.  Pada tahap awal dia mungkin dapat menyangkal bahwa dia dapat mengatasi masalah usahanya dengan cara tersebut. Tetapi dia tidak pernah mengerti lebih jauh. Bahwa berbuahnya karma sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan dan usaha yang dilaksanakan. Karena pengertian karma tidak bersifat pasif, kita dapat mengubahnya sesuai dengan apa harapan kita sendiri. Bukan dengan cara menolak keberadaannya. Kenyataan tidak ada suatu agama yang umatnya semuanya kaya atau sukses. Kita akan jumpai beraneka ragam. Ada yang ekonominya rendah, sedang dan tinggi. Ada yang pintar, sedang atau bodoh. Ada yang menjadi pejabat dan ada juga yang menjadi penjahat. Mengapa ?” Kembali lagi karena karmanya sendiri. Agama adalah tuntunan hidup agar kita dapat menjalankan kebajikan.

Di sini kita dapat melihat kalau diri sendiri tidak berusaha maka kita tidak akan meraih kesuksesan yang kita harapkan. Kalau diri sendiri tidak mau mengendalikan diri dari perbuatan negatif kita sendiri yang merasakan bukan orang lain. Kenyataan seperti itu, jarang sekali dimengerti oleh orang-orang karena keterbatasan pengetahuannya sendiri. Jadi, Kalau ada alasan keyakinan menghambat kemajuan kariernya adalah sangat tidak tepat dan tidak beralasan.

Ada lagi yang lebih gawat bahwa dia mengalami masalah karena dikerjai oleh orang lain. Pandangan ini bisa berkembang lebih jauh dan ruwet. Apabila ada orang demi kepentingan materi atau sesuatu yang lain memberikan komentar bahwa ada orang yang tidak senang sama kita sehingga dia melakukan hal seperti itu. Makanya kita tidak sukses atau usaha selalu ada halangan. Kita semula tidak memiliki rasa permusahan bahkan dalam pikiran sekali pun. Tetapi karena pandangan orang yang kita anggap pandai, telah menyebabkan timbul pemahaman salah. Akibatnya kita menjadi tidak senang sama orang yang dimaksud. Biasanya kita saling tegur sapa, tetapi sekarang berubah dengan pandangan sinis, kesal dan marah yagn laur biasa. Padahal orang yang dimaksud tidak tahu apa-apa dan tidak ada maksud negatif apapun sama kita. Hal ini menjadi masalah yang baru. Siapa yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan ?”

Dalam pengertian Buddhis kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tidak ada orang lain yang dapat menyakiti diri kita kecuali diri kita sendiri. Orang yang ada di luar hanya memberikan kondisi. Kalau kita tidak hiraukan maka tidak ada pengaruhnya sama sekali. Seperti orang yang lagi marah ?” Kalau kita tidak tanggapi atau malah mempunyai pikiran kasihan. Mengapa orang ini tidak sadar apa yang dilakukan itu tidak baik dapat menimbulkan pertengkaran. Maka kemarahan tersebut tidak ada efeknya sama kita. Tetapi kalau kita tanggapi kondisi di luar tersebut, malahan kita  menambah beban dan masalah yang baru lagi. Padahal dalam hidup ini banyak hal yang harus kita perbuat. Kita hanya memfokuskan pada hal-hal yang tidak membawa pada kemajuan.

IV. HASIL PERBUATAN
Buddha bersabda kepada para Bhikkhu sebagai berikut : “O, Para Bhikkhu, tindakan-tindakan yang diniati, dilakukan dan dikumpulkan itu tidak akan padam selama hasilnya belum dialami. Apakah di kehidupan ini juga, kehidupan mendatang atau beberapa kehidupan berikutnya dan selama tindakan diniati, dilakukan dan dikumpulkan belum dialami, tidak akan ada akhir penderitaan.”

Jadi, karma yang telah kita lakukan tersebut, memiliki hasil yang pasti. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk berbuah. Meskipun demikian tidak berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kita dapat mengubah kondisi dan potensinya, yaitu dengan melakukan kebajikan yang lebih besar lagi. Seperti halnya angin yang bergerak ke arah barat, kita tidak dapat mengubah arah angin.  Kalau kita akan belayar ke arah timur. Tetapi tujuan kita dapat tercapai yaitu dengan cara mengubah layarnya dan hal ini sangat sederhana untuk dilakukan.

Hasil Perbuatan dari sepuluh perbuatan baik dan sepuluh perbuatan jahat ada 3 (tiga) macam, yaitu : alam kelahiran berikutnya, pengaruh serupa dan lingkungan tempat tinggal

IV.1. Alam kehidupan
Dalam konsep Buddhis alam kehidupan tersebut ada 31 (tiga puluh satu) alam. Secara garis besar terdiri dari lima alam, yaitu alam manusia, alam dewa, alam asura, alam setan, alam neraka dan alam hewan. Apabila orang melakukan kebaikan maka akan terlahir di alam bahagia. Dalam hal ini alam dewa merupakan alam bahagia. Sebaliknya apabila orang berbuat jahat akan terlahir di alam penderitaan yang meliputi : alam asura, setan, neraka dan hewan.

Perbuatan tidak baik pada tingkat yang terburuk apabila dikembangkan dan dijalankan seringkali akan menjadi penyebab untuk terlahir di alam neraka, pada tingkat menengah terlahir di alam hewan. Pada tingkat teringan terlahir sebagai setan.

Apabila orang tidak terlahir di dua macam alam tersebut, maka mereka akan terlahir di alam manusia. Sementara alam manusia memiliki dua kondisi tersebut dan apa yang diterima sesuai dengan benih perbuatannya sendiri. Berbeda dengan alam dewa mereka hidup menikmati kebahagiaan dan kesenangan saja. Sementara alam neraka mereka mengalami penderitaan yang luar biasa. Kita tidak boleh menganggap hal kecil apabila kita melakukan kejahatan atau menganggap alam penderitaan biasa saja. Sekali orang masuk ke dalam alam tersebut maka akan sulit baginya untuk terlepas dari alam tersebut apalagi untuk terlahir di alam yang lebih tinggi. Begitu pula kita tidak boleh memiliki keinginan untuk terlahir di alam hewan. Saat kita melihat hewan tertentu, yang kelihatnya hidupnya jauh lebih enak dibandingkan dengan manusia. misalnya seekor kucing atau anjing yang terlihat begitu sangat disayang dan mendapat makanan yang layak. Timbul inspirasi kita untuk terlahir sebagai anjing atau kucing. Hal ini tidak baik dan tidak bijaksana. Karena dapat membentuk pikiran bawah sadar. Sehingga benar-benar dapat membuat kita terlahir di alam tersebut.

Apabila kita kaji lebih mendalam sebetulnya alam hewan mereka diliputi oleh ketakuatan. Setiap saat mereka harus siap untuk diserang atau diterkam hewan lainnya. Bahkan bahaya terbesar adalah manusia. Selain itu kesempatan bagi mereka untuk terlahir di alam yang lebih baik akan jauh lebih sukar apalagi hewan yang hidupnya mengkonsumsi hewan lainnya. Setiap hari mereka harus melakukan pembunuhan agar dapat bertahan hidup. Sementara yang lain selalu dalam keadaan tertekan. Ini betul-betul menderita. Di banding dengan alam manusia tentunya sangatlah berbeda.

Seringkali timbul pertanyaan, kalau demikian mengapa ada hewan yangn hidupnya kelihatannya begitu baik di banding manusia. Hal ini tidak dapat kita pisahkan dari karma. Betul ia terlahir di alam hewan tetapi sebelum kehidupan ini sebagai makhluk apapun mereka pun melakukan perbuatan. Apabila perbuatannya baik, terlahir dalam bentuk hewan, ia akan meresa lebih bahagia dari hewan lainnya. Sebaliknya kalau perbuatan negatif jauh lebih besar dalam bentuk hewan ia semakin menderita. Karena ada hewan yang sangat disayangi dan ada pula hewan yang sangat dibenci.

Dalam sutra disebutkan makhluk-makhluk yang terlahir di alam asura mereka dipenuhi rasa tidak puas dan iri akan kebesaran alam dewa. Mereka sangat menderita sekali. Pada alam setan mereka mengalami kelaparan dan rasa haus luar biasa. Makhluk-makhluk yang terlahir di alam neraka mereka menerima buah penderitaan yang begitu berat. Sementara mereka yang terlahir di alam dewa, mereka mengalami terus-menerus kebahagiaan. Namun kebahagiaan tersebut tidaklah kekal adanya. Setelah buah karma habis mereka pun terlahir kembali.

 Kehidupan ini terus berputar kalau kita tidak hati-hati akan tergelincir dan mengalami penderitaan. Sekali kita lalai akan membawa penderitaan yang panjang. Disebutkan pula dalam Bodhisattva Vow, meskipun seseorang memiliki kemampuan melihat 5 (lima) kehidupan yang akan datang. Kelima kehidupan tersebut selalu dilahirkan di alam bahagia, semua kebutuhan terlengkapi. Ini tetap belum cukup karena dia tidak mengetahui kehidupan keenamnya. Apakah dia dapat mempertahankan atau mengalami hal serupa ? Tidak ada yagn tahu secara pasti. Kalau dirinya sendiri tidak berusaha secara giat menyempurnakan kebajikan dalam hidup ini.

IV.2. Pengaruh yang serupa
Pengaruh serupa adalah hasil karma yang diterima sesuai dengan perbuatan atau memiliki kemiripan dengan perbuatan yang dilakukan. Orang yang telah menghindari perbuatan dari pembunuhan mereka akan menikmati hidup yang panjang dan kesehatan yang baik. Tetapi kalau mereka melakukan perbuatan pembunuhan mereka akan mengalami usia pendek, penuh penyakit dan sakit-sakitan.

Orang yang tidak mengambil barang milik orang lain, mereka akan mudah mengumpulkan harta dan kekayaan. Sebaliknya orang yang mencuri, mereka mudah sekali mengalami kehilangan harta dan kekayaan. Saat telah dikumpulkan harta dicuri orang lain atau pinjaman tidak dikembalikan.

Orang yang tidak melakukan perbuatan asusila, mereka memiliki teman-teman yang akrab dan keluarga bahagia. Tetapi mereka yang melakukan perbuatan asusila mereka akan mengalami cepat berpisah dari teman-teman dan keluarga, pasangan hidupnya selingkuh/ tidak setia, karyawannya mengundurkan diri silih berganti atau tidak dapat menetap dan dia mengalami hidup sendirian tidak ada yang menemani.

Akibat ucapan berbohong, orang tidak ada yang percaya apa yang dia utarakan dan orang tidak mendengarkan pengarahannya. Selain itu dia sering kali mendapat tuduhan palsu.

Akibat ucapan menjelek-jelekkan orang lain (gosip), dia akan sukar menjalin hubungan harmonis dengan orang lain dan sering ditinggalkan oleh teman-temannya.

Akibat Kata-kata kasar, orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak baik mengenai dia dan sering kali dia menerima kata-kata yang tidak menyenangkan.

Akibat ucapan yang tidak bermanfaat, orang tidak memperhatikan dengan serius apa yang dia utarakan, mereka menganggap dia orang bodoh sehingga tidak memperhatikan pendapat dan pandangannya. Selain itu dia berbicara tidak jelas.

Akibat sifat tamak, keinginan tidak terpenuhi dan mengalami kegagalan memperoleh apa yang diharapkan.

Akibat niat jahat dia akan tertekan perasaan ketakutan dan mudah panik pada situasi bahaya.

Akibat pandangan salah, dia mudah sekali mengalami kebinggungan dan sukar mengembangkan kebijaksanaan.

IV.3. Lingkungan
Orang yang tidak melakukan pembunuhan, mereka akan berdiam di tempat bersih dan tidak tersebar bibit penyakit. Makanan berlimpah ruah dan bergizi untuk jangka waktu lama, tersedia obat-obatan yang manjur dan kesehatan yang baik. Sehingga memungkinkan mereka untuk hidup lebih panjang dan tidak mengalami sakit-sakitan. Hal ini sangat jelas ada 2 (dua) orang penyakit serupa tetapi satu karena kondisi ekonomi baik dia dapat membeli obat-obatan yagn tepat dan mendapat perwatan yang layak sehingga dia dapat sembuh. Tetapi yang lain karena ekonominya rendah dia tidak dapat memperoleh obat yang layak atau sama sekali tidak mendapat perawatan sehingga membuat dia semakin parah dan menderita. Bahkan akiabt keadaan tersebut dia meninggal dunia. Padahal untuk ukuran umum, jenis penyakitnya tersebut biasa saja. Mengapa hal ini dapat terjadi. Kita tidak dapat melepaskan dari pengaruh karma masing-masing.

Orang yang mengambil barang milik orang lain/ mencuri, mereka akan bermungkin di tempat dimana terdapat semak belukar, jarang ada tanaman dan kalau pun ada sayuran yang tumbuh tidak subur.

Orang yang melakukan perbuatan asusila, mereka berdiam di daerah tempat penipu dan menipu kita, di sana tidak ada orang yang dapat dipercayai.

Orang yang mengucapkan kata-kata memecah belah, mereka berdiam di tempat berbatu keras dan pegunungan, sedikit alat transportasi sehingga orang harus memikul beban berat.

Orang yang mengucapkan kata-kata kasar mereka berdiam di daerah lembah dengan tanaman berduri dan merasa tidak nyaman saat bergerak. Karena setiap saat kulit mudah sekali tersayat oleh tanaman tersebut. Seperti kata-kata kasar yang diucapkan begitu menyayat bagi siapaun yang mendengarkan. Demikian pun dia tinggal di tempat dimana dia akan selalu tersayat oleh duri yang ada disekitarnya.

Orang yang suka menggosip mereka berdiam di daerah tempat tanaman dan buahan tidak tumbuh wajar atau waktu yang tepat dan tidak sesuai dengan musimnya.

Orang yang tamak mereka berdiam di daerah tempat sumber materi mudah berkurang dan hilang, kekuatan fisik dan wajah mudah berubah.

Orang yang memiliki niat jahat mereka berdiam di daerah perang, penyakitan atau tempat dimana konfliknya berkelanjutan.

Orang yang memiliki pandangan salah mereka berdiam di daerah yang kekurangan air dan sumber mineral mudah habis, tidak ada seni dan kehidupan spiritual.

Ketiga macam hasil perbuatan tersebut menunjukkan bahwa orang tidak dapat lepas dari perbuatan yagn dilakukannya. Setiap saat dia selalu memanen perbuatannya sesuai dengan bobot masing-masing. Hal ini pun menjadi bahan perenungan bagi kita masing-masing untuk selalu waspada dan secepat mungkin memperbaiki perilaku dan sikap dalam menapak kehidupan ini lebih baik dan bijaksana. Karena apa yang kita alami tersebut begitu jelas dan pasti hanya menunggu waktu saja. Kita tidak perlu untuk menyesali apa yang telah terjadi. Karena penyesalan tidak bisa mengubah keadaan. Lebih baik kita bertobat dalam pengertian bertekad untuk tidak melakukan kembali jenis perbuatan negatif tersebut. Selain itu kita perlu mengembangkan sikap mental yang baik, yaitu bagaimana kita mengubah keadaan yang buruk menjadi baik. Pengalaman yang tidak baik menjadi menyenangkan. Sehingga keadaan apapun yang terjadi dapat kita hadapi dengan jalan Dharma tidak membawa penderitaan bagi siapapun.

V. PEMBAGIAN KARMA
Karma secara garis besar dibagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu karma menurut kedudukannya, karma menurut waktu, karma menurut kekuatan dan karma menurut fungsi. Apabila kita mampu memahami keempat macam tersebut, maka kita akan mudah mengenali setiap bentuk perubahan yang kita hadapi lebih jauh lagi.

Pembagian karma ini mampu menjawab pertanyaan, mengapa ada orang yang terlahir usia pendek, sedang atau panjang ?” Mengapa ada orang yang jahat tetapi hidupnya kelihatannya kebal dari hukum ? mengapa orang yang baik hidupnya susah ?”  Mengapa ada orang yang hidupnya tidak kekurangan sementara yang lain selalu kekurangan ?” Seperti pada suatu kesempatan, Buddha ditanya, “Mengapa di dunia ini ada orang yang menjalankan usaha, tetapi selalu mengalami kerugian. Ada yang hanya pas-pasan, ada yang lebih dan ada yang berlimpah rua.

Buddha bersabda, “Pada kehidupan sebelumnya ada orang yang berkehendak dan berjanji untuk memberikan barang kepada pertapa suci. Namun dia tidak tepati. Akibatnya apa yang dilakukan selalu gagal. Ada orang yang berkehendak dan berjanji untuk memberi, dia memberi sesuai apa yang dijanjikan. Maka hasilnya sesuai apa yang diharapkan. Sementara bagi mereka yang berjanji tetapi dia memberikan lebih dari pada apa yang dijanjikan. Maka setelah kelahiran berikutnya. Hartanya berlimpah rua.

Ini hal yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Di samping itu, kita harus tetap berusaha untuk berbuat yang terbaik. Karena kita tidak tahu perbuatan apa yang telah kita lakukan sebelum kehidupan ini dan kalau pun kita tahu hal ini tidak akan mempengaruhi kehidupan kita. Kalau kita tidak berusaha berbuat yang terbaik.

V.1.  Karma menurut Kedudukan
V.1.1. Karma buruk (yang menghasilkan akibatnya di alam-alam menyedihkan  (Duggati–loka)
Terdapat 10 macam perbuatan tak baik, yaitu membunuh, mencuri, berzina (ketiganya ini disebabkan oleh perbuatan Badan Jasmani {Kaya-Kamma}; berbohong, memfitnah, berKata Kasar, bergunjing (keempatnya ini disebabkan oleh Ucapan {Vaci-Kamma}); ketamakan, Itikad Jahat. dan Pandangan Salah (ketiganya ini disebabkan oleh Pikiran {Mano-Kamma}).

V.1.2. Karma baik yang menghasilkan akibatnya di alam-alam penuh nafsu  (Kama–loka)
Terdapat 10 perbuatan baik atau bermoral. yaitu; kemurahan-Hati  (Dana), kemoralan  (Sila), Meditasi  (Bhavana), Rasa Hormat (Apacayana), Rasa Bakti/Berbalas Budi  (Veyyavacca). Pelimpahan Jasa  (Pattidana), Bergembira Dalam Kebajikan Orang Lain  (Pattanumodana), Mendengarkan Dhamma  (Dhammasavana), Membabarkan Dhamma  (Dhammadesana), dan Meluruskan Pandangan Salah  (Ditthujukamma).

V.1.3. Karma baik yang menghasilkan akibatnya di alam Brahma yang berbentuk  (Rupa–loka)
Terdapat 5 jenis tingkatan yang merupakan tingkat ketenangan batin yang terjadi di dalam proses meditasi. yaitu: Tingkat dari Jhana atau Penyerapan Pertama hingga Tingkat Jhana atau Penyerapan kelima.

V.1.4. Karma baik yang menghasilkan akibatnya di alam Brahma  yang tanpa bentuk  (Arupa–loka)
Terdapat 4 jenis, yang juga merupakan tingkatan ketenangan batin dan terjadi di dalam proses meditasi, yaitu: Kesadaran yang berdiam di dalam ruang tanpa batas ; Kesadaran yang berdiam di dalam kesadaran tanpa batas ; Kesadaran yang berdiam pada kekosongan ; dan Kesadaran dimana persepsi/pencerapan amat sangat halus sehingga ia tak dapat dikatakan ada atau tidak ada.

V.2. Karma menurut waktu
Buddha bersabda, “O, Para Bhikkhu, tindakan-tindakan yang diniati, dilakukan dan dikumpulkan itu tidak akan padam selama hasilnya belum dialami. Apakah di kehidupan ini juga, kehidupan mendatang atau beberapa kehidupan berikutnya dan selama tindakan diniati, dilakukan dan dikumpulkan belum dialami, tidak akan ada akhir penderitaan.” (Anguttara Nikaya X : 206). Karma menurut waktu terbagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu :
V.2.1. Karma yang berbuah dalam kehidupan saat ini
Karma yang dilakukan akan berbuah langsung dalam kehidupan ini juga tanpa harus menunggu kehidupan mendatang. Kita dapat kita rasakan langsung akibatnya. Pada jaman Buddha, apabila ada orang yang dengan ketulusan hati memberikan persembahan kepada Buddha, maka tidak dari 7 (tujuh) hari mereka dapat merasakan hasil perbuatannya. Seperti kisah seorang penjual bunga bernama Sumana, saat melihat Buddha dia menjadi begitu bahagia, senang dan gembira. Dengan ketulusan hati dia mempersembahkan bunga yang ada ditangannya kepada Buddha. Pada hari itu Raja Bimbisara yang mendengar berita ini sangat bahagia atas ketulusan hati Sumana. Raja pun memberikan penghargaan kepadanya berupa delapan ekor kuda, delapan budak laki-laki, delapan orang budak perempuan, delapan orang anak gadis dan uang delapan ribu .
    
Kisah seorang Brahmana bernama Ekasataka yang begitu miskin, bahkan jubah/ pakaian yang dimilikinya hanya satu setel saja. Apabila dia berkehendak keluar, maka isterinya di rumah menunggu saja. Begitu pula apabila isterinya yang keluar dia di rumah. Suatu hari saat mendengarkan Dharma Buddha, brahmana tersebut timbul suka cita yang sangat tinggi. Dia berkehendak untuk memberikan pada orang yang begitu dikaguminya tersebut. Namun dia tidak punya harta sama sekali. Setelah dicermati dengan seksama hanya jubah satu-satunya harta dia antara keranguan dan kebimbangan bergejolak dalam batin brahmana tersebut. Pada pertemuan pertama dia memutuskan tidak memberikan persembahan dengan segala pertimbangan. Begitu pula dengan pertemuan kedua kalinya, dia tidak mampu untuk menaklukkan batinnya. Tetapi pada pertemuan ketiga, dia memutuskan untuk memberikan persembahan satu-satunya jubah yang paling berharga dalam hidupnya. Setelah dapat memberikan persembahan tersebut. Brahmana ini merasakan kegembiraan yang luar biasa bahwa dia dapat menaklukkan terhadap keragu-raguan dan kebimbangan yagn menghantuinya. Pada saat menuju pulang dia berpapasan dengan raja. Raja melihat perilaku Brahmana ini merasa begitu penasaran. Mengapa Brahmana ini begitu bahagia dan gembira, ada kabar apa yang membuat brahmana berlaku demikian.

Brahmana ini pun menjelaskan secara mendetail. Raja terkesimah dan simpati yang luar biasa atas pengorbanan Brahmana tersebut. Maka dia pun memerintahkan kepada pengawalnya untuk menyerahkan jubah dua potong. Brahmana tersebut menerima tetapi tidak untuk dipakai sendiri. Dia langsung menyerahkan kepada Buddha. Kejadian ini berulang sampai raja memberikan hadiah sebanyak 32 potong dan akhirnya Brahmana tersebut mengambil dua potong selebihnya dipersembahkan kepada Buddha. Selain itu raja pun mengirimkan tujuh macam hadiah, masing-masing berjumlah empat, yaitu empat ekor gajah, empat ekor kuda, empat orang pelayan wanita, empat orang pelayan laki-laki, empat desa dan empat ribu uang tunai untuk keluarga Brahmana tersebut. Melihat kejadian ini, murid Buddha pun bertanya mengapa Brahmana tersebut dapat menerima hadiah yang begitu luar biasa dari Raja ?” Buddha pun menjelaskan pemberian yang dilakukan oleh Brahmana tersebut dengan ketulusan yang luar biasa dan telah mengalahkan segala kebimbangan dan keraguan. Malahan Buddha menyebutkan, “Apabila pada pertemuan pertama, Brahmana tersebut dapat menaklukkan dirinya, maka dia akan mendapat hadiah dari raja sebanyak 16 kali lipat dari yang diterimanya saat itu. Tetapi kalau dia memberikan pada pertemuan kedua maka hadiahnya delapan kali lipat. Karena dia memberikan pada pertemuan ketiga dia hanya memperoleh empat kali lipat saja.

Mengapa dapat terjadi demikian ?” Karena kebajikan yang dimiliki oleh Buddha begitu luar biasa. Dalam setiap kehidupan sebelumnya Beliau selalu menyempurnakan diri. Jasa kebajikan yang dimilikinya tiada taranya. Jadi, kalau kita hendak berdana kita harus cepat-cepat lakukan. Kalau kita tunda hasilnya akan datang perlahan dan sebagian saja. Kemungkinan pula kita tidak lakukan sama sekali. Dalam Dharma disebutkan barang siapa yang memberikan dana/ persembahan kepada orang suci hasilnya lebih besar dari pada umumnya. Persembahan yang paling tinggi adalah kepada Sangha. Mengapa demikian !” Karena Sangha merupakan ladang jasa kebajikan, tempat berkumpulnya para suciwan. Apabila kita cermati dengan sungguh-sungguh perbuatan yang kita lakukan sepintas lalu sebetulnya kita pun sudah dapat merasakan akibatnya. Meskipun sesaat saja. Seperti saat kita mendoakan semua makhluk hidup berbahagia. Kalau doa tersebut dilakukan benar-benar dengan ketulusan hati dan pikiran terpusat penuh. Kita akan merasakan kebahagiaan. Begitu pula kalau kita suka berdana, saat kita memberikan dana sebenarnya kita sudah merasa senang dan gembira. Sebaliknya kalau kita memiliki keinginan jahat terhadap orang lain. Kita akan mengalami kegelisahan dan perasaan yang tidak nyaman. Seakan-akan setiap tingkah kita salah. Kalau kita marah, mimik wajah kita tidak menarik untuk dipandang oleh siapa pun. Nafas tidak beraturan dan kita merasa tidak nyaman sama sekali. Sebetulnya tidak ada orang merasa senang marah karena marah membuat mereka menderita. Sebaliknya perbuatan positif memberi kebahagiaan maka orang berlomba-lomba untuk berbuat baik. Hanya saja pemahaman kebaikan sendiri yang masih belum jelas terkadang dalam melakukan kebaikan sering ditemukan mereka malah membuat dirinya sendiri dan orang lain menempuh jalan yang salah.
        Jadi, dari hal tersebut di atas kita dapat mengerti adanya buah karma sepenuhnya meskipun itu baru permulaan yang dapat kita rasakan. Apalagi kalau karma tersebut berbuah penuh maka kualitasnya akan semakin besar dan kita memetik atas hasilnya pun semakin besar.

V.2.2. Karma yang berbuah dalam kehidupan mendatang
Sering kita menjumpai orang yang suka mengeluh, mengapa hidup saya tidak berubah ?” Mengapa jalan hidup ini selalu mendapat halangan ?” Mengapa saya tidak kaya-kaya sementara teman saya semua telah menjadi orang yang sukses ?” Mengapa orang jahat hidupnya kaya dan dapat pergi ke mana-mana, sementara saya sendiri tinggal di rumah saja ?” Memang semua itu tidak asing lagi kita dengar. Dalam agama Buddha, orang yang melakukan kebajikan, apabila perbuatannya tersebut belum berbuah dia akan berkeluh kesah, tetapi kalau perbuatannya telah berbuah dia baru mengerti bahwa perbuatan baik itu hasilnya begitu bahagia. Sebaliknya orang yang berbuat jahat selama kejahatannya belum berbuah dia merasa bahagia terkadang malah menyindir orang yang hidupnya lurus. Tetapi pada saat perbuatan jahatnya berbuah. Dia akan merasakan begitu menderita sekali akibat perbuatan jahatnya tersebut. Seperti kasus pengedar narkoba, mereka merasa begitu mudah mengumpulkan harta dengan cara tersebut. Terkadang mereka membujuk orang lain untuk ikut bergabung. Mengapa harus hidup susah ?” Tetapi kalau perbuatan ini terungkap oleh aparat kepolisian, mereka merasakan begitu ketakutan. Mereka baru menyesali bahwa mereka tidak mengerti, terpaksa, tidak memiliki perkerjaan dan berbagai alasan lainnya. Pada saat tersebut mereka baru dapat memuji orang yang hidupnya lurus lebih baik dari pada mereka.

Karma yang berbuah dalam kehidupan mendatang dapat terjadi karena karma yang telah dilakukan tidak berbuah dalam kehidupan ini atau memang potensinya cenderung ke kehidupan yang akan datang. Seperti Kisah yang terhimpun dalam Petavatthu, dimana orang-orang yang terlahir di alam setan. Karena pada kehidupan sebelumnya sewaktu sebagai manusia, mereka tidak waspada dan lalai dalam mengumpulkan jasa kebajikan. Membiarkan kejahatan menyertai maupun menghiasi perjalanan mereka. Begitu pula dengan kisah yang tercantum dalam Vimanavathu, yaitu kisah orang-orang yang terlahir di alam dewa karena jasa kebajikan yang telah mereka himpun dalam kehidupan lampau tanpa ragu-ragu.

V.2.3. Karma yang berbuah dalam beberapa kehidupan
Karma ini potensinya begitu besar sehingga tidak cukup berbuah hanya satu atau dua kehidupan saja tetapi dalam beberapa kehidupan dan terus berbuah mencari majikannya. Seperti kisah seekor lembu yang hendak dipotong oleh seorang pandita pemimpin upacara pengorbanan. Saat sebelum upacara dia gembira sesaat kemudian sedih. Perilaku lembu tersebut didengar dan diperhatikan oleh pembantu pandita. Pembantu pandita ini pun menceritakan kepada atasnya. Pandita yagn mendengar hal ini menjadi begitu penasaran dan dia pun menemui lembu aneh tersebut untuk mendapat jawabannya. Lembu ini pun menceritakan bahwa dia bahagia karena hari ini dia akan mati dan karma kejahatan yang dilakukan sebelumnya akan habis hari ini juga. Dia merasa sedih karena ada orang yang melakukan perbuatan yang pernah dia lakukan sebelumnya yaitu pandita pemimpin upacara ini. Dalam setiap kelahiran sebelumnya, kematiannya selalu tragis, yaitu ia selalu mengalami kepalanya berpisah dari tubuhnya. Pada malam hari itu pun kejadian sama terulang kembali, yaitu sebuah batu karang yang besar jatuh karena hujan yang deras dan batu tersebut jatuh tepat di lembu aneh tersebut dan memisahkan kepala dengan tubuhnya. Kejadian ini merupakan yang keseratus yang harus dialaminya. Karma ini memiliki potensi yang besar dan selalu mengikuti dalam beberapa kelahiran. Umumnya jenis perbuatan yang bobotnya tinggi, dilakukan pada orang-orang yang suci dan/ atau memiliki karma yang berat.

V.2.4. Karma yang tidak berbuah/ tidak efektif
Karma yang tidak berbuah karena potensinya sudah habis. Seperti sebutir benih yang telah tersimpan lama sehingga menjadi daluawarsa. Benih ini tidak memiliki potensi untuk tumbuh menjadi tanaman. Kemungkinan lainnya buah karma tersebut telah memberikan hasil secara penuh sehingga kehilangan kekuatannya.

V.3. Karma menurut kekuatan
Karma menurut kekuatan terbagi menjadi 4 (empat), yaitu :
V.3.1. Karma yang berat
Karma yang memiliki potensi untuk berbuah lebih dahulu dari karma lainnya. Seperti diumpamakan 3 (tiga) benda dilemparkan dari ketinggian dan waktu yang sama, benda pertama berupa logam, kedua kertas dan ketiga kapas. Benda yang memiliki bobot berat yang lebih tinggi akan sampai terlebih dahuludibanding dengan benda yang lainnya. Dalam hal ini logam, kemudian kertas, selanjutnya kapas.    Karma berat ini ada dua macam, yaitu karma baik dan karma buruk. Karma baik, seperti latihan meditasi yang telah mencapai tingkat pengembangan. Setelah kematian akan terlahir di alam Jhana.

Karma yang buruk yang berat adalah lima macam perbuatan jahat, yaitu membunuh ibu, membunuh ayah, melukai seorang Buddha, membunuh seorang arahat dan memecah belah sangha.    Mengapa bisa demikian ?” Untuk orang tua jasa kebajikan mereka itu luar biasa. Bahkan sebagai seorang anak tidak mudah untuk membalas jasa kebajikan mereka. Dalam Anggutara Nikaya disebutkan, seandainya seseorang memikul ibunya kemana-mana disatu bahunya dan memikul ayahnya pada bahu yang lain. Ketika melakukan hal ini dia hidup seratus tahun. Walaupun dia melayani ibunya dan ayahnya dengan meminyaki, memijat, memandikan dan menggosok kaki tangan mereka serta membersihkan kotoran mereka. Perbuatan ini pun belum cukup, dia masih belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan pengusaha besar di bumi ini, sangat kaya dan memiliki tujuh harta, dia masih belum berbuat cukup untuk mereka. Dia belum dapat membalas budi mereka. Mengapa demikian ?” Karena orang tua telah berbuat banyak untuk mereka. Mereka membesarkan, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini. Tetapi seseorang yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka dalam keyakinan, mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, menjadi bermoral, mendorong orang tuanya yang tadinya kikir menjadi dermawan, mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh batinnya menjadi bijaksana. Orang seperti itu telah berbuat cukup untuk orang tuanya. Dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.

Melukai seorang Buddha, Buddha tidak dapat dibunuh oleh siapapun karena jasa kebajikan dan penyempurnaan latihan yang telah dilakukan. Karena dalam kelahiran sebelumnya Beliau telah menghindari dari perbuatan pembunuhan, penganiyayaan terhadap makhluk apapun baik perbuatan, ucapan maupun lewat pikirannya. Selain itu kebajikan seorang Buddha begitu luar biasa, sehingga siapapun yang melakukan perbuatan akan menerima hasil yang besar pula. Membunuh seorang arahat, karena arahat ini merupakan orang suci. Kualitas orang suci kebajikannya lebih tinggi dibanding orang biasa. Kalau ada orang yang membunuh mereka karma buruknya pun lebih tinggi dari makhluk biasa. Malahan dalam beberapa kisah, karma yagn dipetiknya dapat bertahan dalam beberapa kehidupan.     Memecah belah Sangha, karena sangha merupakan tempat berkumpul orang-orang suci. Para suciwan merupakan pelita kehidupan dunia. Siapapun yang dapat dekat dan belajar darinya akan memperoleh manfaat yang sangat luar biasa.

III.3.2. Karma menjelang ajal
Karma menjelang ajal menentukan kelahiran berikutnya kalau tidak ada bekerjanya karma berat. Orang yang dalam kondisi sekarat sepatutnya kita memberikan penghiburan dan membuat batin mereka menjadi tenang dan damai. Karena hal ini merupakan waktu yang sangat tepat dapat membantu ke kelahiran mereka yang lebih baik. Orang yang batinnya gelisah berarti mereka masih memiliki beban maupun kemelekatan yang tinggi. Kalau kemelekatannya tersebut tidak dapat ditinggalkan akan membawa kepada kehidupan yang kurang baik. Begitu pula orang yang stress dan mau bunuh diri. Kalau sampai dia melakukan perbuatan bunuh diri, perbuatannya akan merugikan dirinya sendiri, baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan berikutnya, yaitu terlahir di alam penderitaan. Mengapa ?” Karena kondisi batinnya tidak tenang dan penuh prustasi, kemarahan atau beban lainnya.

Ada kisah suatu keluarga dimana terdapat ayah, ibu dan anak. Ibunya begitu sayang sama anaknya. Saat menjelang ajal dia merasa resah dan gelisah memikirkan anaknya tersebut. Akibat keadaan ini ibu tersebut terlahir kembali dekat dengan keluarganya tetapi sebagais eekor anjing yang selalu menemani pemilik rumah tidak lain adalah anaknya terdahulu. Jadi keadaan batin yang tidak terkendali dengan baik dapat membawa kita pada keadaan yang tidak baik. Sehingga dengan pemahaman seperti itu. Kita perlu melatih diri kita setiap saat untuk melatih hati dan pikiran. Kalau pun kita meninggal kita dapat mempertahankan keadaan batin dengan kondisi yang tenang dan bahagia. Sehingga setiap hari kita perlu melatih terus-menerus praktek meditasi atau pelafalan pada nama Buddha.

V.3.3. Karma kebiasaan
Karma yang biasa dilakukan mengakibatkan kebiasaan. Seperti suka memberikan dana. Kalau perbuatan ini dilakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan. Begitu pula dengan orang yang sering menyakiti orang lain. Pertama mungkin dia merasa bersalah sekali tetapi kalau perbuatan ini terus dilakukan maka dia menganggap sebagai hal biasa. Ini perbuatan yang tidak baik. Kebiasaan tersebut terjadi karena sering kali kita ulangi. Kebiasaan yang buruk membawa hasil buruk sementara kebiasaan baik membuat kita menjadi maju.

Banyak perbuatan yang dapat kita jadikan sebagain perbuatan positif, seperti memberikan pelayanan kasih kepada orang yang sakit, melatih meditasi, pelafalan nama Buddha atau pemberian bantuan pada orang yang kesusahan. Namun sering pula kita mendengar berbagai alas an mereka tidak dapat melakukan kebaikan karena tidak memiliki waktu. Sebetulnya mereka dapat melakukannya. Karena dalam berbuat kebajikan tempatnya tidak harus berada di tempat ibadah. Di mana kita tinggal atau kita berada kita dapat melatih dan berbuat baik. Misalnya saat kita lagi mengadakan perjalanan jauh daripada tidak ada aktivitas sama sekali lebih baik kita latih pikiran dengan pelafalan nama Buddha, Boddhisattva atau pelimpahan jasa kebajikan kepada semua makhluk. Kebiasaan ini sangatlah sederhana dan bermanfaat sekali bagi siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun dari pada melamun dan membuang waktu begitu saja.

V.3.4. Karma yang tidak begitu berat dirasakan
Jenis karma ini hampir tidak didorong oleh kehendak. Tetapi tetap menimbulkan hasil atas perbuatan yang terjadi. Karma ini dilakukan sewaktu-waktu dan hampir tidak didorong oleh kehendak.

V.4. Karma menurut Fungsi
Karma menurut fungsinya terbagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu :
V.4.1. Karma Penghasil
Karma ini yang menentukan makhluk-makhluk terlahir di alam yang mana sesuai dengan karma yang dilakukan atau bekerjanya karma menurut kekuatan. Karma ini mencari tempat yang cocok sesuai dengan karma yang kita punyai. Untuk terlahir di alam mana, tempatnya dimana, keluarga apa, status sosial bagaimana. Seperti orang yang memiliki tabungan yang cukup. Pada saat berpergian dia dapat memilih hotel sesuai dengan keuangannya sendiri. Begitu pun karma penghasil menentukan sesuai dengan karma yang telah dihimpun olehnya. Apabila pada kehidupan sebelumnya dia melatih kemurahan hati, perbuatan baik (Sila) dan kebijaksanaan maka dia akan terlahir di alam sorga, kalau pun tidak di sana di alam manusia. Begitu pun orang yang mengembangkan keserakahan begitu tinggi mereka akan terlahir di alam setan, kalau kebenciannya yang tinggi di alam neraka. Sebaliknya kalau kebodohan dibiarkan terlahir di alam hewan.

Kita sering dengar pertanyaan mengapa orang baik hidupnya pendek sementara orang jahat hidupnya panjang ?” Mereka melihat hal ini karena teman-teman mereka yang baik meninggal dengan cepat sementara orang-orang yang mereka tidak sukai hidupnya panjang. Sebetulnya tidaklah demikian. Seperti perkataan Einstein mengenai hukum relativitas, orang yang berada dalam kondisi bahagia, seakan-akan waktu berjalan begitu cepat. Sementara orang yang mengalami masalah meskipun hanya beberapa detik mereka akan merasakan begitu lama dan menjenuhkan. Begitu pula dengan orang yang kita temui. Kalau orang tersebut dalam persepsi kita orang baik, menyenangkan, menarik dan simpati. Kita tidak pernah merasa bosan meskipun kita berulang kali bertemu dengannya. Seperti orang yang lagi pacaran. Waktu yang dilaluinya begitu cepat.  Padahal dia telah bersama kekasihnya selama 4 (empat) jam. Bagaimana kalau dia berhadapan dengan orang yang dibencinya selama 4 (empat) jam tersebut !” Sementara kita berhadapan dengan orang yang kita benci meskipun kita bertemu hanya beberapa kali terasa terus menerus dan membuat kita merasa tidak nyaman. Seakan-akan dia selalu hadir dalam kehidupan kita padahal hanya beberapa menit saja.

Orang yang pendek umur atau panjang umur tidak ada kaitannya dengan pengertian kebaikan sama sekali. Usia kehidupan ditentukan oleh nilai latihan atas penghindaran dari pembunuhan atau penganiyayaan atas makhluk hidup dan pola hidup yang dijalani saat ini. Selain itu pula kematian dan kehidupan memiliki makna tersendiri, yaitu batas usia kehidupan sebagai manusia dalam keluarga tertentu, keadaan tertentu telah habis. Dengan habisnya masa waktu tidak berarti mereka menghilang begitu saja. Pengertian Buddhis mereka dilahirkan kembali sesuai dengan karmanya kembali. Mereka dapat terlahir di alam penderitaan dan dapat pula terlahir di alam bahagia. Jadi, kematian bukan berakhir segala-galanya. Seperti kata Bhante Viriyanadi Maha Thera, “Kalau umat Buddha mendengar ada orang yang dekat dengannya. Sebaiknya ucapan yang disampaikan bukan turut berduka cita, karena dengan meninggalnya di alam ini mereka kemungkinan dapat terlahir di alam bahagia. Bagaimana disebut berduka sementara mereka bahagia. Karena kematian adalah awal dari kehidupan berikutnya. Beliau menyarankan kepada kita semua sebaiknya untuk mengucapkan kata-kata sebagai berikut : “Turut mendoakan semoga yang meninggal dapat terlahir di alam bahagia.” Ucapan lain “Sabbe Sangkhara Anicca” artinya segala keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Semua akan mengalami perubahan, tidak ada yang kekal atau bertahan terus menerus.

V.4.2. Karma penguat
Karma ini menguatkan hasil dari karma penghasil. Seperti kisah dewa penghuni istana Lakhuma, saat Monggalana melihat penghuni istana tersebut memiliki keelokan melebihi lainnya, membuat segala penjuru bersinar bagaikan bintang.  Monggalana pun bertanya perbuatan apa yang dilakukan olehnya sehingga memiliki keanggungan demikian. Dewa penghuni istana itu pun menjawab, “Ketika saya terlahir sebagai manusia, saya memberikan persembahan makanan kepada pertapa suci/ bhikkhu, pada hari uposatha menjalankan Atthangasila (delapan macam Sila), selalu terkendali oleh kebiasaan-kebiasaan moral, melatih untuk tidak membunuh makhluk-makhluk hidup, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan asusila, tidak berbohong dan minuman yang memabukkan. Karena perbuatan inilah maka keelokkanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera di sini dan di sana, muncul apapun sesuai dengan kesenanganku.

Kisah lainnya berkaitan dengan Peta pemburu rusa. Dikatakan bahwa di Rajagaha hiduplah seorang pemburu mencari nafkah dengan menembak dan membantai rusa siang dan malam. Dia memiliki seorang teman, seorang pengikut awam. Pengikut awam ini, walaupun tidak berhasil membujuk agar dia tidak senantiasa melakukan tindakan-tindakan jahat. Tetapi dapat menggugah hatinya untuk berperilaku baik pada malam harinya. Dia berkata, “Ayolah, sahabatku, janganlah menghancurkan kehidupan makhluk hidup pada malam hari.” Pemburu itu pun tidak melakukan pembunuhan pada malam harinya, dia menghancurkan kehidupan makhluk pada siang hari saja. Setelah mati, dia terlahir di alam Vimanapeta di dekat Rajagaha. Dia menjalani penderitaan pada siang harinya, tetapi pada malam harinya dia menikmati kesenangan-kesenangan. Begitu pula dengan mereka yang pada kehidupan lampaunya dia melatih kemurahan hati/ berdana, karena tidak terlahir di alam dewa, dia terlahir di alam manusia dengan diberkahi kekayaan berlimpah ruah. Terkadang kita mungkin melihat dan menyaksikan ada orang yang luar biasa kayanya, usaha yang dijalankan selalu besar dan mendatangkan keuntungan yang tinggi.

Mereka yang menjalankan sila dengan sempurna, pada saat kematian dia dilahirkan kembali di alam manusia di keluarga agung dan memiliki moral yang baik pula. Karena terlahir di keluarga demikian, anak ini pun memiliki potensi kebaikan. Sementara orang yang sangat jahat pada kehidupan sebelumnya dia terlahir di alam manusia dalam keadaan ekonomi yang begitu berat dan dia selalu mengalami rintangan-rintangan hidup.

V.4.3. Karma pelemah
Karma ini melemahkan efek dari karma penghasil. Misalnya orang yang terlahir di keluarga yang tidak mampu. Tetapi anak tersebut berusaha dengan giat dan penuh semangat. Meskipun dia harus menghadapi rintangan berulang kali dalam memperbaiki diri. Baik dari komunitas tempat dia huni maupun masyarakat di sekitarnya. Umumnya orang yang hidup di sana terlibat pada minuman keras, suka berjudi atau terlibat pada perbuatan tercela. Tetapi karena dia memiliki dasar kebajikan yang tersembunyi dia pun dapat membebaskan dari kondisi tersebut. Dia mampu menghadapi semua rintangan dan bahkan dapat tumbuh baik tidak menjadi anak nakal. seperti bunga teratai yang muncul dari permukaan kolam yang keruh. Sehingga dia dapat membebaskan dirinya dari kondisi lingkungan tempat dia huni dan menjadi orang yang berarti. Begitu pun dengan orang yang terlahir di keluarga yang cukup atau kaya. Seharusnya dia dapat menikmati pendidikan dengan baik tetapi karena karma pendukung untuk kepandaian tidak ada. Dia tidak dapat memanfaatkan fasilitas yang dia peroleh.

V.4.4. Karma Penghancur
Karma ini menghancurkan sebab dari akibat yang akan muncul. Seperti suatu keluarga yang miskin, tetapi anak-anaknya pintar dan cantik. Kepandaiannya tersebut menarik hati majikannya. Dia pun dinikahkan dengan anak majikannya dan dipercaya untuk mengelola perusahaan. Dengan masuknya dia di keluarga tersebut, tentunya kehidupan ekonominya pun ikut berubah. Dia tidak lagi miskin tetapi telah menjadi kaya. Kita pun dapat melihat kehidupan orang-orang yang berkecukupan baik dari jabatan maupun kekuasaan yang dimiliki. Tetapi karena dia menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya. Seharusnya dia dapat bertahan terus-menerus dan dihormati orang. Tetapi karena keserakahan dia melakukan tindakan tidak baik. Akibatnya namanya tercemar dan kekayaannya merosot atau musnah karena disita negara atau instansi tempat dia mengabdi.

VI. PENUTUP
Kemauan/Kehendak Bebas menentukan perjalanan kehidupan kita. Walaupun hidup kita sudah terkondisi pada masa lampau, tetapi sepenuhnya ada di dalam diri kita untuk mengubah kondisi itu dan menciptakan kesejahteraan saat ini dan masa mendatang. KARMA, bukanlah 'NASIB', bukanlah 'TAKDIR' yang tidak dapat diubah. Tidak pula seseorang terikat untuk memetik semua yang telah ditanam dalam proporsi yang sebegitu. Perbuatan (Karma) seseorang pada umumnya tidaklah mutlak tidak dapat diubah; dan hanya sedikit saja yang demikian (tak dapat diubah). Sebagai contoh. jika seseorang menembakkan sebutir peluru dari senapannya. seseorang tak dapat memanggilnya kembali atau membelokkan nya dari sasarannya. Tetapi sebaliknya. jika itu bukan sebuah peluru (bola) timah atau besi yang melesat di udara, melainkan sebuah bola gading di atas papan-bilyar. Seseorang dapat menyusul kan bola lain di belakangnya dengan cara yang sama dan mengubah jalannya.

Meskipun demikian, ada batasan-batasan dalam kehendak bebas itu. Ada empat faktor yang mempengaruhi kehendak bebas, yakni: Karma Individu dari kehidupan Masa Lampau dan Sekarang, Potensialitas dan Kebebasan yang Inheren dalam sifat-dasar diri kita, Pengkondisian dari Luar, dan Karma Kolektif yang telah matang. Potensialitas dan Kebebasan yang Inheren dalam sifat dasar diri kita, maksudnya adalah tiap-tiap individu telah memiliki kebebasan untuk memilih atau menentukan sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan Pengkondisian dari Luar adalah kondisi lingkungan sekitar yang kita alami, misalnya dengan siapa bergaul, saat hujan, panas, siang, ataupun malam.

Ada 4 (empat) penyebab kehilangan Karma Baik, yaitu : tidak melakukan dedikasi/ pelimpahan jasa kebajikan atas apa yang dilakukan ; kemarahan ; penyesalan atas perbuatan baik dan menyombongkan diri. Sementara itu ada 5 (lima) komponen kekuatan untuk memurnikan karma negatif : Penyesalan / Pertobatan ; tekad/Aditana untuk tidak mengulangi tindakan merugikan itu lagi ; perbanyak perbuatan baik dan murnikan pikiran ; mengambil perlindungan pada Triratna, dan membangkitkan sifat Welas Asih kepada semua makhluk dan latihan-latihan (Latihan apapun termasuk Namaskara, Meditasi dan Membaca Sutra/ Mantra). 
Last Updated on Saturday, 29 November 2008 17:01  

Powered by SIDDHI Team & CitraSoft Technologies